Harga Sembako yang Tak Kunjung Turun

BOLEH jadi banyak pihak yang menganggap keputusan pemerintah menunda menaikkan harga BBM per 1 April sebagai akhir dari sebuah upaya. Namun, harus diingatkan bahwa berbagai dampak yang telanjur menghantam masyarakat dengan adanya rencana kenaikan BBM lalu juga harus dicarikan jalan keluar. Harga kebutuhan pokok atau sembako yang telanjur meroket harus distabilkan, jangan hanya diserahkan kepada pasar, kepada pemasok dan pedagang.

Pemerintah, terutama menteri di bidang ekonomi, harus mampu memaksa agar harga-harga yang lebih dulu melambung kembali normal. Ini penting, karena sudah menjadi kebiasaan bahwa harga-harga yang telanjur naik susah diturunkan. Langkah Menteri BUMN Dahlan Iskan yang tetap mendorong agar BUMN mengadakan operasi pasar, meskipun harga BBM batal naik, patut diapresiasi.

Dahlan seakan ingin menunjukkan, pemerintah jangan hanya asal bicara, tapi perlu meninjau langsung ke lapangan, ke pasar. Jangan mudah menyatakan semua terkendali, harga-harga sudah kembali turun, tapi tidak ada upaya yang bisa ditunjukkan untuk mewujudkan harga bahan pokok tetap terjangkau.

Saat ini memang tidak ada alasan yang rasional untuk menaikkan harga. Karena itu, pemerintah seharusnya tidak perlu ragu untuk bertindak. Karena harga BBM batal naik, belum ada komponen yang bisa memicu kenaikan harga kecuali faktor psikologis. Karena itu, terapi psikologis juga perlu diterapkan. Jika Kementerian BUMN gencar operasi pasar, kepolisian bisa merazia dan turun ke pasar-pasar untuk mendata kenaikan harga yang terjadi. Razia itu bisa menekan distributor dan agen-agen besar komoditas masyarakat, termasuk pedagang, agar tidak menaikkan harga.

Kenaikan harga yang tetap terjadi akhir-akhir ini juga memberikan pelajaran bahwa penyampaian rencana kenaikan BBM sejak jauh-jauh hari ternyata ikut memberikan peluang bagi para spekulan bermain dalam menaikkan harga. Begitu pula aksi massa yang menjurus tindakan anarkistis diperkirakan juga ikut memberikan andil menaikkan harga bahan-bahan. Akibat kepanikan yang timbul, masyarakat diam-diam membeli barang secara berlebihan. Secara ekonomi pasar, barang yang sedikit di pasaran akan memicu kenaikan harga.

Sebagai negara demokratis, Indonesia memang harus konsekuen menjunjung upaya transparansi serta mengundang partisipasi publik dalam penentuan kebijakan publik. Untuk semua itu ada harga yang harus dibayar. Namun, kalau tebusannya terlalu mahal, salah satunya harga-harga bahan pokok yang meningkat tajam, tentu semua harus dipertimbangkan dengan matang. (Tajuk Jawapos)

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s