Mengenal Aceh

Oleh Rhenald Kasali

BANYAK pembaca yang bertanya, bagaimana saya bisa begitu dekat dengan Aceh. Jawabannya sederhana saja. Ibu yang melahirkan kedua anak saya berasal dari Aceh. Jadi, tidak mengherankan kalau sejak dulu (termasuk di era konflik) biasa bagi saya berjalan-jalan menembus kota-kota terpencil di provinsi yang bagi sebagian orang sulit dimengerti ini.

Dulu, sebelum Aceh dibangun dengan infrastruktur yang luar biasa seperti saat ini (pascatsunami), saya biasa memasuki kota-kota kecil sambil menumpang bus yang sering mogok di tengah hutan, beristirahat di antara ratusan lembu milik masyarakat yang tengah beristirahat di atas jalan beraspal, atau ikut bus yang harus menyeberang sungai yang hanya dapat dijangkau dengan menggunakan rakit-rakit bambu.

Pernah suatu ketika bus berhenti pada tengah malam di sebuah hutan dan kondektur sibuk memasukkan durian serta ayam hidup ke tumpukan bagasi yang diikat di bagian atas bus. Di situ pula koper yang berisi pakaian saya disimpan. Esoknya seluruh pakaian saya beraroma ayam campur durian. Namun, perlahan-lahan suara orang yang berbicara pun menghilang. Semua tertidur pulas.

Saat turun dari bus, di tengah hutan itu, saya melihat sopir bus pun tengah tidur di pos ronda. Rupanya, sopir beristirahat sambil menunggu pagi. Padahal, saya berharap agar bus bisa segera bertolak dan sampai di Banda Aceh lebih awal.

Jadi, saya mengenal betul alam, budaya, dan masyarakat Aceh. Mulai Aceh Selatan, Aceh Besar, Aceh Utara, dan Aceh Barat sampai pelosok Pulau Simeulue dari Sinabang hingga Kampung Air dan Sibigo yang dulu hanya bisa ditembus dengan kapal patroli dan sepeda motor. Itu sebabnya, Kamis malam (5/4) saya diminta masyarakat Aceh untuk menjadi salah seorang panelis dalam menguji para calon gubernur di ballroom Hotel Hermes.

Sebagian orang mencemaskan keadaan Aceh yang sering diberitakan belakangan ini, yaitu ramai dengan peristiwa teror dan keamanan. Tetapi, kalau berada di tengah-tengah masyarakat Aceh, Anda akan tahu, keadaan sebenarnya tak seburuk yang Anda duga. Saya bahkan sempat kongko di beberapa kedai kopi langganan saya bersama anak-anak muda dan para akademisi Universitas Syiah Kuala dan IAIN di kedai kopi Solong di Ulee Kareng. Kalau Anda penggemar kopi, mungkin Anda sepakat dengan saya, tak ada kopi yang lebih enak dari kopi di kedai ini.

Rempah-Rempah dan Migas

Bagi saya, Aceh adalah tipikal provinsi yang selalu berada dalam pusaran perubahan yang sangat kuat. Bukan hanya badai tsunaminya yang mengguncang dunia atau perannya sebagai Serambi Makkah dan pelaksanaan syariat Islam-nya (dengan hukum cambuk), melainkan juga siasat militernya (yang begitu sulit untuk dikuasai siapa pun).

Meski bagi sebagian orang Aceh ditandai dengan karakter manusia yang berbicara spontan dan kadang menyakitkan atau terkesan sinis, mereka adalah orang-orang yang tulus dan jujur mengungkapkan isi perasaan. Bahwa ada di antara mereka yang munafik atau punya agenda terselubung, saya kira di mana pun selalu ada. Kalau mengerti mereka, Anda akan bisa duduk lepas dan tertawa terbahak-bahak mendengarkan kisah-kisah lucu dan sedih dari kehidupan sehari-hari.

Saya ingin kembali pada pusaran perubahan. Pada abad ke-16 Aceh sudah menjadi bandar perdagangan rempah-rempah. Pala, lada, cengkih, kayu manis, kopi, dan kelapa mengundang kedatangan Cornelis de Houtman. Di Pulau Simeulue, khususnya di Sinabang, Belanda juga membangun jalan kereta api untuk mengangkut hasil bumi Aceh.

Sayang, pada akhir abad 20, rempah-rempah memudar. Desa-desa yang dulu kaya berubah menjadi kantong-kantong kemiskinan. Sekitar 80 persen dari 900 ribuan angka kemiskinan di Aceh berada di pedesaan yang dulu dikenal sebagai kantong usaha rempah-rempah.

Dari rempah-rempah, Aceh beralih ke migas menyusul ditemukannya ladang LNG di Arun. Ini membuat Aceh menjadi kontributor besar (nomor 4) bagi APBN republik ini. Dan saat otonomi khusus mulai dinikmati, ladang migas Arun justru memasuki masa pensiun. Dua tahun lagi pasokan LNG Arun habis. Bahkan, saat ini saja pabrik-pabrik besar yang 20 tahun lalu menjadi kebanggaan masyarakat di pesisir Aceh Utara, sekitar Blang Thupat, kini menjadi bangunan tak bertuan.

Ke mana Aceh akan bergerak?

Inilah pertanyaan besar yang menjadi PR bagi gubernur dan wakil gubernur terpilih yang hari ini nasibnya ditentukan rakyat Aceh. Infrastruktur Aceh secara merata berubah menjadi luar biasa, tetapi industri besar nyaris tidak ada. UKM pun lebih banyak hidup dari sektor perdagangan dan jasa-jasa sederhana.

Sapi-sapinya sehat dan mudah diternakkan, tetapi industri pengolahan daging tidak ada. Ikan dan hasil laut luar biasa, tetapi industri perikanan belum datang. Kelapa sawit mulai ditanam, tetapi pabrik kelapa sawit dan pengolahannya belum tampak. Emas sudah keluar dari perut bumi, tetapi mercury dan cairan kimianya masih dibuang ke sungai tanpa diolah sehingga membahayakan penduduk.

Bagi saya, Aceh adalah provinsi yang menarik. Dari debat pilkada kemarin saya memperoleh kesan, Aceh yang damai adalah dambaan rakyat dan para pemimpinnya. Saya berharap, anak-anak muda dan para wirausahawan muda Aceh dapat mengambil momentum untuk memperbarui Aceh dan keluar dari stigma “belum bekerja kalau tidak menjadi PNS” atau “belum menjadi wirausahawan kalau belum menjadi kontraktor”.

Entrepreneurship selalu dimulai dari kejelian melihat masalah dan mengubahnya menjadi suatu kesempatan. Jayalah Aceh, bersatulah Indonesia! (*)

*) Guru besar FE Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s