Logistik

Oleh Rhenald Kasali

DUNIA militer mengenal kata logistik dan semua jenderal yang pernah memimpin pasukan perang tahu persis bahwa kunci kemenangan sebuah perang ada pada kekuatan logistik. Menghubungkan kemenangan dengan kesiapan pasukan dan pasukan pendukung adalah sesuatu yang penting. Anda tak mungkin menang perang hanya dengan mengirim pasukan penyerang. Anda juga harus membangun mata rantai yang membuat mereka bisa memenangi pertempuran, mengikuti atau mendahului kemajuan mereka tahap demi tahap.

Di Aceh saya bertemu dengan puluhan pemilik SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) yang bercerita betapa kocar-kacirnya logistik militer dan polisi Indonesia pada era konflik. Tentara dan polisi dengan dalih “keadaan darurat” sering datang ke SPBU untuk mengisi BBM armada tempurnya secara paksa. Sudah tak jelas betul apakah itu untuk keperluan darurat atau hanya dibuat darurat. Tetapi, mereka datang berkali-kali dalam sehari dan menyedot minyak dalam jumlah besar. Dan tentu saja tidak membayar. Cukup menunjukkan moncong senjata saja atau menyebutkan bahwa itu dibutuhkan untuk kepentingan negara.

“Itu sebabnya GAM saat itu menjadi lebih populer,” ujar seorang peserta pilkada Aceh yang saya temui dua minggu lalu. “Logistik yang kacau membuat militer kehilangan simpati di mata kami,” katanya lagi. Saya jadi berpikir, jangan-jangan itu pula yang tengah dialami tentara kita di Papua sehingga mereka kesulitan menangani “penembak-penembak liar” yang sudah mematikan banyak wajah sipil. Logistik yang buruk atau yang dikelola “asal jadi” bisa membuat satu provinsi hilang. Kita sudah mendengar keterlibatan perusahaan sebesar Freeport yang mendukung kebutuhan polisi dan itu pernah menimbulkan keributan besar. Namun, tanpa manajemen logistik yang memadai, bahaya besar kembali akan kita hadapi.

Logistik dalam Bisnis

Dalam bisnis dulu kita menyebut logistik sebagai “channel” atau “distribution channel“. Atau kalau disingkat, dalam marketing kita sebut distribusi. Tetapi, pelajaran selama puluhan tahun menemukan, kita telah memberlakukan distribusi sebagai alat pemasaran yang tidak seberapa penting ketimbang branding, packaging atau advertising, dan promotion. Bujetnya dibatasi, gudangnya kumuh, gaji pegawai distribusi kalah jauh oleh promosi. Perhatian kita masih bisa ditingkatkan. Akibatnya sama saja dengan militer yang gagal dalam pertempuran, kocar-kacir!

Barang hanya beredar di kawasan tertentu, sedangkan di daerah-daerah lain yang sudah dibombardir dengan iklan, kurang melambung. Kebutuhan telah distimulasi dengan promosi, tetapi pasarnya justru diisi brand lawan. Mereka diuntungkan promosi yang dilakukan musuh. Begitu Anda masuk, mereka sudah “jatuh cinta” dan “biasa” membeli produk kompetitor. Barang masuk ke toko, tetapi penjual tidak memasarkannya kepada pelanggan. Anda dipaksa menjual secara konsinyasi dalam jumlah besar, tetapi hasil penjualan tidak disetor kepada Anda. Melainkan, diberikan untuk membayar tagihan pada merek-merek yang barangnya kuat di pasar. Perlahan-lahan Anda menarik diri dari pasar dan gagal. Jadi, bukan promosi yang membuat Anda sulit, melainkan logistik.

Kalau Anda berada dalam bisnis logistik, Anda pasti tahu betapa rumitnya melakukan kegiatan logistik di negeri ini. Faktor penyebabnya, cuaca yang ekstrem, infrastruktur yang buruk, masyarakat dan selera pasar yang amat beragam, kekuatan daya beli yang tidak sama, cara berkomunikasi yang berbeda-beda, jaringan pasar informal, ditambah dengan munculnya kantong-kantong ekonomi baru di berbagai pelosok tanah air. Barang berpindah cepat di daerah tertentu, tetapi lamban di daerah lain.

Generasi Keempat

Istilah distribusi yang kita kenal dalam marketing selama ini adalah perangkat bisnis “generasi pertama”. Sekarang ia berevolusi menjadi logistik dan logistik pun sudah berevolusi, masuk ke generasi keempat. Dari logistik fisik menjadi usaha independen yang ramping dan efisien berbasis web-economy. Dan mereka yang berperan dalam bisnis itu lebih menjalankan peran sebagai “orchestrator” ketimbang “pembawa barang” alias kurir. Maka, di bisnis logistik Anda akan bertemu dengan seribu satu pemain, mulai jasa-jasa pengiriman seperti kantor pos zaman dulu, jasa kurir, angkutan udara, sampai web-based orchestrator logistic.

Inti dari bisnis logistik sebenarnya adalah management of flow (dari titik awal ke titik tujuan). Jadi, ia melibatkan enam kegiatan, mulai manufacturing support (bahan baku, mesin, dan jasa-jasa bernilai tambah tinggi), transportasi inbound, seputar pergudangan dan pusat distribusi, transportasi outbound, after market service (spare parts, return, repairs, dan call center), sampai instalasi dan pengiriman langsung ke tangan pelanggan.

Karena itu, dalam logistik dikenal berbagai macam kegiatan, mulai procurement logistics, production logistics, distribution logistics, after sales logistics, bahkan disposal logistics (untuk menangani limbah industri). Melihat luasnya cakupan dan pertumbuhan tuntutan konsumen di abad ke-21 ini, sampai saat ini dapat dipastikan tidak banyak perusahaan Indonesia yang siap menghadapinya. Karena itulah, saya berpendapat bisnis logistik adalah bisnis yang sangat menarik untuk mulai ditekuni anak-anak muda yang mau bekerja keras serta memiliki kemampuan dan kompetensi dalam digital technology.

Sebaliknya, bagi pemain besar memilih partner logistik yang tepat menjadi penentu keberhasilan usaha. Logistik bukan sekadar memindahkan barang, melainkan melibatkan banyak kegiatan orkestrasi yang menyangkut masalah biaya, teknologi, digital tracking, keamanan, kebersihan, kesehatan, keamanan bagi lingkungan (green), serta tentu saja asal investasi dan distribusi fisik. Dengan munculnya kantong-kantong ekonomi baru di daerah-daerah yang infrastrukturnya buruk, jelas dibutuhkan sebuah dukungan logistik yang kuat. Siapkah Anda? (*)

*) Guru besar FE Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi
dimuat di JawaPos 17 Apr 2012

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s