Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo Meninggal di Gunung Tambora

Perjalanan hidup Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo berakhir di Gunung Tambora. Salah satu hobi favoritnya memang mendaki gunung. Widjajono meninggal dalam pendakian menuju puncak Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kemarin sekitar pukul 16.00 Wita.

Lombok Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, Wakil Menteri (Wamen) Widjajono awalnya menjadwalkan pendakian Gunung Tambora pada Kamis (19/4).

Tapi, karena saat itu ada rapat kabinet di Jakarta, rencana tersebut ditunda sehari.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bima Ilham Sabil yang ikut dalam rombongan pendakian mengatakan, Wamen tiba di Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima, pada Jumat pagi (20/4). “Tapi, sehari sebelumnya tiga anggota rombongan Wamen sudah datang,” tuturnya.

Dari bandara dia langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Dompu, titik awal rute pendakian. ”Begitu turun dari pesawat di bandara, Wamen langsung mengajak berangkat ke Gunung Tambora. Kami salat Jumat, makan siang, dan belanja di Dompu untuk persiapan pendakian,” ujar Ilham.

Sekitar pukul 14.00 Wita Wamen bersama rombongan dari Jakarta yang didampingi Ilham dan tim pendaki gunung memulai pendakian. “Jumlah rombongan yang bersama Wamen saat itu sekitar 20 orang,” ujar Ilham.

Dua jam berjalan, mereka sampai di pos I, wilayah Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Mereka tidak beristirahat, tapi terus melanjutkan pendakian. Sampai di pos II sekitar pukul 17.00. Lagi-lagi, mereka terus naik. ”Kami sampai di pos III menjelang malam, sehingga membangun tenda untuk bermalam di situ. Saya kebetulan satu tenda bersama Wamen,” cerita Ilham.

Setelah menikmati makan malam, Ilham ikut ngobrol banyak hal dengan Wamen. Termasuk soal program kerja Kementerian ESDM. Sabtu (21/4) sekitar pukul 03.00 Wita, mereka bangun, sarapan, kemudian melanjutkan pendakian. ”Pada pukul 04.00 kami sudah sampai pada ketinggian 2.250 meter di atas permukaan laut,” sebutnya.

Saat itu Wamen mulai terlihat kelelahan. Salah seorang anggota rombongan lantas memberikan air minum. Meski begitu, Wamen tidak mau beristirahat. Dia terus melanjutkan pendakian. Tapi, perjalanan sudah tidak bisa secepat sebelumnya.

Wamen berjalan pelan-pelan dan banyak beristirahat. ”Sekitar pukul 08.00 saya sudah mencapai puncak Gunung Tambora (puncak pendakian, Red). Sementara Wamen masih berada pada ketinggian sekitar 2.350 meter. Puncak (pendakian) Tambora berada pada ketinggian 2.400 meter,” terang Ilham.

Saat itu, lanjutnya, Wamen dan beberapa orang yang mendampinginya memanggil dirinya untuk turun. Sebab, Wamen sudah tidak kuat berjalan lagi. ”Begitu saya turun, kondisi Wamen kritis. Saya sempat memegang urat nadinya di tangan maupun di leher. Nadinya sudah tidak terasa,” akunya.

Melihat kondisi Wamen yang kritis, rombongan memutuskan pulang. Wamen lantas ditandu menuju pos III. Ketika mereka sampai pos III, ada helikopter yang datang. Tapi, karena cuaca berkabut, heli itu tidak bisa mendarat. Wamen terpaksa dibawa turun dengan mobil Hardtop.

Tiba di pos I, sudah siap seorang dokter dan langsung memeriksanya. Hasilnya, Wamen telah meninggal dunia. ”Saat itu sekitar pukul 16.00 Wita. Wamen dipastikan telah meninggal dunia. Namun, perasaan saya, Wamen meninggal sekitar pukul 09.30. Sebab, saat itu saya sempat memegang urat nadinya dan sudah tidak terasa,” kata Ilham.

Ilham menduga, Wamen meninggal karena kelelahan. Sebab, dia berangkat dari rumahnya di Jakarta pada Jumat pukul 03.00 WIB dan langsung mendaki. Sebelumnya, Wamen juga mengeluh kelelahan.

Jenazah Widjajono diterbangkan ke Denpasar dengan helikopter, untuk selanjutnya dibawa ke Jakarta. Sekitar pukul 22.00 WIB tadi malam, jenazah Wamen tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Aktivitas Wamen mendaki Gunung Tambora tak banyak diketahui pihak-pihak terkait di Dompu dan Bima. Kecuali pejabat lembaga yang masih berhubungan dengan ESDM, tak banyak yang mengetahui kegiatannya itu.

Kepala Perkebunan Kopi Tambora Suparno mengaku mengetahui meninggalnya Wamen dari informasi dr Hendi yang menangani Wamen sebelum mayatnya diterbangkan ke Denpasar. ”Soal kematian Wamen saya dapat dari dr Hendi,” ujarnya.

Dia juga mengaku tidak mengetahui kedatangan Wamen untuk mendaki Gunung Tambora. Padahal, Wamen dan rombongan melalui Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, sekaligus melewati Kebun Kopi Tambora yang dia kelola.

Kepala Dinas Koperasi Perdagangan Perindustrian dan Energi Kabupaten Dompu Khaerul Insan mengaku menerima informasi kehadiran Wamen dari Kadis Pertambangan Kabupaten Bima saat rapat persiapan akhir panen raya jagung pada Jumat pagi. Sementara Wamen sampai di Kota Dompu pada sore dan sempat salat Asar di Masjid Raya Dompu.

Setelah itu, rombongan langsung menuju Tambora. Sebelum sampai ke Gunung Tambora, Wamen mampir ke lokasi panen raya jagung dan bertemu bupati Dompu.

Menurut Khaerul, bupati sempat mencegah keberangkatan Wamen. Selain cuaca tidak mendukung, ada Menteri Pertanian Suswono yang akan melakukan panen raya jagung. Tetapi, Wamen tetap melanjutkan perjalanan. Dia berjanji, setelah mendaki, akan mampir dan bersama Menteri Pertanian melakukan panen raya jagung.

Tapi, kemarin sekitar pukul 09.00, Khaerul mendapat informasi bahwa Wamen sakit. Dia kemudian melakukan koordinasi dengan PT STM dan NNT yang memiliki helikopter untuk melakukan evakuasi.

Helikopter dua perusahaan tambang itu menuju lokasi Wamen sakit di sekitar Gunung Tambora. Dua heli itu sebenarnya sudah menemukan titik koordinat. Tetapi, karena cuaca tidak bersahabat, heli tak dapat mendarat dan pulang sambil menunggu cuaca membaik.

Baru sorenya helikopter bisa mendarat di pos I dan hendak membawa Wamen ke RSU Calabai Pekat. Tetapi, dokter yang menangani di pos I menyatakan Wamen telah meninggal dunia. Akhirnya, jenazah dibawa ke Puskesmas Calabai. Jenazah Wamen lantas diterbangkan ke Denpasar dengan helikopter bernomor lambung S 76 milik PT NNT menuju Denpasar.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, dirinya mendapat kabar meninggalnya Widjajono kemarin sore. Terkait dengan penye­bab meninggalnya Widjajono, Jero belum mengetahuinya. Yang jelas, menurut informasi yang dia dapat, kondisi Widjajono sehat saat akan mendaki. ”Saya dilapori, sebelumnya kondisi beliau baik-baik saja,” katanya.

Pria kelahiran Magelang, 16 September 1951, itu mendaki Gunung Tambora dalam misi sosial untuk acara Female Trac­kers for Lupus. Widjajono meninggalkan istri, Nina Sapti Triaswati, dan putri semata wayangnya, Kristal Amalia.

Direktur Utama RS Sanglah dr Wayan Sutarga mengatakan, begitu tiba di Denpasar, jenazah Wamen dibawa ke kamar jenazah RS Sanglah. Jenazah Widjajono menjalani prosedur biasa. ”Jenazah dimandikan dan dikafani serta didoakan sesuai dengan agama beliau,” ujar Sutarga. Dari hasil pemeriksaan visum luar, lanjut Sutarga, tidak ditemukan luka atau cedera.

Rencananya, hari ini jenazah Widjajono dimakamkan di kompleks pemakaman San Diego Hills, Karawang.

Butuh Oksigen Lebih Banyak

Spesialis jantung dan pembuluh darah dr J. Nugroho mengatakan, dataran tinggi punya tekanan udara yang rendah. Itu berarti kandungan oksigen juga lebih tipis jika dibandingkan dengan yang ada di dataran rendah.

Padahal, oksigen benar-benar dibutuhkan sel-sel tubuh manusia agar dapat berfungsi dengan optimal. Terutama pada jantung. Bila suplai oksigen total berkurang, suplai oksigen ke otot jantung pun ikut menurun.

Hal tersebut memacu terjadinya iskemia miokard. Artinya, terjadi sumbatan aliran darah yang berlangsung progresif. Kondisi itu mengakibatkan aritmia atau gangguan pada irama jantung. Bila denyut jantung tak segera dikembalikan ke keadaan normal yang teratur, berisiko memicu kematian mendadak.

Nugroho menyebutkan, peningkatan aktivitas juga membuat tubuh membutuhkan kadar oksigen yang lebih banyak. Apalagi, semakin tinggi gunung didaki, akan semakin rendah kadar oksigennya. “Karena itu, otot jantung bekerja lebih keras,” tutur dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSUD dr Soetomo/FK Unair Surabaya tersebut.

Dia mengungkapkan, 80 persen kematian dalam kasus serangan jantung disebabkan aritmia. Pun, mereka adalah orang yang memiliki riwayat penyakit jantung koroner (PJK). “Sayangnya, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa mereka ada riwayat PJK sebelumnya,” jelasnya.

Ada pula dampak rendahnya oksigen bagi pendaki gunung. Ada yang mula-mula merasa sesak napas. Selanjutnya, yang dirasakan dapat berupa semacam halusinasi. Kondisi tersebut disebabkan suplai oksigen menuju otak menurun.

Keadaan semacam itu sering membawa akibat yang tidak diinginkan para pendaki gunung. Gangguan tersebut terutama mulai terasa pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Memang, pada ketinggian 2.000 meter, tekanan udara 0,8 bar. Padahal, tepat di permukaan laut (dataran rendah), tekanan udara mencapai 1,013 bar. Tetapi, timbulnya reaksi-reaksi itu bergantung pada daya tahan dan daya penyesuaian perorangan.

Pendakian Terakhir Widjajono Partowidagdo di Tambora

Jumat, 20/4

  • Pukul 14.00 Wita: Wamen dan rombongan yang terdiri atas 20 orang berangkat dari Dompu.
  • Pukul 16.00 Wita: Rombongan tiba di pos I Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu.
  • Pukul 17.00 Wita: Tiba di pos II.
  • Pukul 18.00 Wita: Menjelang malam, rombongan tiba di pos III. Mereka mendirikan tenda untuk bermalam.

Sabtu, 21/4

  • Pukul 03.00 Wita: Bangun, sarapan, kemudian melanjutkan pendakian.
  • Pukul 04.00 Wita: Sampai pada ketinggian 2.250 meter di atas permukaan laut. Wamen terlihat kelelahan. Anggota tim memberikan air putih. Setelah itu, Wamen melanjutkan pendakian meski berjalan pelan dan banyak istirahat.
  • Pukul 08.00 Wita: Sebagian anggota rombongan sampai di puncak pendakian di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut (tinggi gunung Tambora 2.850). Wamen saat itu masih di ketinggian 2.350 meter dan tak kuat melanjutkan pendakian.
  • Kondisi Wamen terus memburuk dan akhirnya kritis. Rombongan memutuskan turun ke pos III, Wamen ditandu. Diperkirakan, Wamen meninggal di perjalanan menuju pos III.
  • Sampai pos III, ada helikopter, tapi tak bisa mendarat karena cuaca buruk. Wamen dibawa dengan mobil Hardtop menuju pos I.
  • Pukul 16.00 Wita: Wamen tiba di pos I dan diperiksa dokter. Saat itu dia sudah tak bernyawa.

Tujuh Gunung Jadi Nama Anak

Cerdas, unik, dan pemberani. Tiga kata itu, tampaknya, bisa mewakili sosok seorang Widjajono Partowidagdo. Kualitas kecerdasannya tecermin dari pemikiran-pemikiran tajamnya di bidang energi. Dalam hal penguasaan detail hingga teknis di sektor migas, Widjajono adalah salah seorang yang terbaik di negeri ini.

Ilmunya memang mumpuni. Setelah meraih gelar sarjana teknik perminyakan dari ITB pada 1975, anak seorang tentara itu mendapat beasiswa dari Caltex (sekarang Chevron) untuk menimba ilmu di AS.

Gelar MSc petroleum engineering, MSc operations research, MA economics, hingga PhD engineering diraih Widjajono dari University of Southern California (USC) AS.

Selain menjadi akademisi di ITB, Widjajono dipercaya perusahaan-perusahaan migas menjadi konsultan.

Bukan hanya Pertamina, melainkan juga perusahaan-perusahaan multinasional seperti British Petroleum (sekarang Beyond Petroleum) sering meminta bantuan jasa konsultasi untuk berbagai proyek migas di Indonesia.

Tak hanya cerdas, konsistensi dan determinasi Widjajono dalam mendorong konservasi energi, perombakan pola subsidi BBM hingga diversifikasi energi melalui penggunaan bahan bakar gas (BBG) tak perlu diragukan lagi.

Sejak masih menjadi akademisi, pengamat, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), hingga wakil menteri ESDM, Widjajono selalu konsisten dengan ide-idenya. Bahkan, dia juga tidak segan-segan melontarkan otokritik terhadap kebijakan pemerintah di sektor energi.

Menyebut Indonesia sebagai negeri yang aneh, negeri yang lucu, karena tidak bisa mengoptimalkan potensi energi merupakan salah satu caranya mengkritik kebijakan energi pemerintah meskipun terkadang dibungkus dengan kalimat disclaimer.Ini pernyataan pribadi, lho,” katanya, lantas tertawa.

Bagi wartawan, Widjajono juga merupakan sosok unik. Rambutnya yang agak gondrong dan agak acak-acakan seperti menjadi trademark dia, membedakannya dengan banyak pejabat lain di negeri ini. Soal komentar, dia jauh dari kesan pelit. Bahkan, SMS maupun telepon dari wartawan pun hampir pasti dia jawab.

Widjajono juga sosok yang sederhana. Kisahnya datang ke Istana Negara dengan tas jinjing yang bagian atasnya robek, makan di kantin belakang DPR, beberapa kali naik angkutan umum ketika berangkat kerja menunjukkan bahwa jabatan tinggi tak mampu merenggut kesederhanaannya.

Soal gayanya itu, Widjajono pernah berujar. ”Saya lebih suka berpenampilan seperti ini. Menurut saya, seseorang itu dihargai bukan karena pakai baju mahal atau mobil mewah, tapi dari perilakunya.”

Widjajono juga merupakan sosok pemberani. Dia termasuk segelintir pejabat yang ”berani” dengan DPR. Memang, hubungan Widjajono dengan Komisi VII DPR yang membidangi sektor energi kurang harmonis.

Dalam forum rapat kerja, Widjajono sering ”diserang” oleh anggota DPR. Itu gara-gara sikap Widjajono yang sering melontarkan berbagai wacana terkait kebijakan BBM, padahal kebijakan itu belum menjadi keputusan resmi pemerintah.

Namun, perseteruan Widjajono dengan DPR juga sering dipicu oleh hal-hal sepele. Misalnya, Widjajono tampak memejamkan mata ketika beberapa anggota DPR tengah mengajukan pertanyaan. Anggota DPR yang berang kemudian menuding Widjajono berlaku tidak sopan dan tidak menghormati DPR.

Mendapat tudingan itu, Widjajono tak tinggal diam. Dia segera menyalakan mikrofon. ”Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, saya memejamkan mata bukan karena tidur, tapi karena konsentrasi,” ujarnya dengan nada suara tinggi.

Hal menarik lain dari Widjajono adalah hobinya mendaki gunung. Dia pernah bercerita, hobinya itu sudah dijalani sejak SMA. Belasan gunung di Indonesia sudah dia daki. Bahkan, hingga ke mancanegara. Gunung Fuji (Jepang), Kinabalu (Malaysia), Kilimanjaro (Tanzania), hingga Aconcagua (Argentina) pernah dia jelajahi.

Kecintaan Widjajono kepada gunung memang begitu besar. Blog pribadinya pun menggunakan gambar pemandangan gunung di halaman utama. Bahkan, nama anaknya (Kristal) diilhami nama tujuh gunung di Indonesia; Kerinci, Rinjani, Semeru, Tujuh, Agung, dan Latimojong. (owi/c4/nw)

(gun/am/ jpnn owi/ina/c2/c11/nw/nda/jawapos)

1 Komentar

Filed under Berita, Indonesia

One response to “Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo Meninggal di Gunung Tambora

  1. Ping-balik: Indonesia Bukan Tanah Surga BBM | Indonesianic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s