Indonesia Bukan Tanah Surga BBM

Meninggalnya Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Widjajono Partowidagdo tak cuma membawa duka mendalam bagi keluarga, tetapi sekaligus bagi bangsa Indonesia.

Wakil Menteri yang akrab disapa dengan panggilan Pak Wid atau Profesor Wid itu dikenal sebagai orang yang eksentrik. Tak hanya terkait dengan penampilan rambut gondrong serta hobinya yang suka pergi mendaki gunung, Pak Wid juga dikenal memiliki keberanian dalam menyatakan pendapat tentang sektor energi.

Pak Wid berpendapat bahwa kita harus memiliki kebijakan energi yang lebih jelas, bukan hanya untuk sekarang, tetapi untuk jangka panjang. Dengan lugas dia menyebut semua upayanya selama ini dalam rangka menjinakkan “bom waktu” yang suatu saat bisa menghancurkan perekonomian nasional.

Saat mayoritas pejabat tinggi sektor energi masih menutup-nutupi, sudah lama Pak Wid menyampaikan di berbagai forum bahwa Indonesia bukanlah negara yang kaya akan minyak. Cadangan yang kita miliki terbukti kalah dengan apa yang dimiliki Malaysia. Karena itu, kita harus menghapus anggapan bahwa negeri kita adalah negeri yang memiliki kekayaan alam yang melimpah.

“Apabila kesadaran ini bisa kita bangun, itu akan membuat kita tidak boros dalam menggunakan energi. Sekarang ini, karena merasa kaya, kita kemudian tidak merasa bersalah untuk menghambur-hamburkan energi,” tegas Pak Wid menjelaskan sikapnya di seminar energi di ITS bulan lalu.

Hanya, memang tidak mudah bagi Pak Wid untuk membuat pemikirannya menjadi kebijakan resmi, apalagi menjadi kesadaran umum. Dalam berbagai diskusi, Pak Wid sering kelihatan gusar saat didebat oleh lawan diskusi yang melecehkan pengetahuannya soal energi. Padahal, dirinya sudah 25 tahun menggeluti persoalan energi dan perminyakan. Namun, semua respons negatif itu tidak pernah mengubah prinsipnya bahwa Indonesia harus mau berubah kalau ingin bertahan sebagai sebuah bangsa.

Bukan hanya sekadar terus menyampaikan pemikirannya, Pak Wid juga memberikan <a href=”http://contoh.in”>contoh</a&gt; langsung. Kendaraan yang setiap hari ia gunakan adalah mobil yang menggunakan bahan bakar gas. Ia bahkan memasang stiker besar di pintu mobilnya yang menunjukkan bahwa kendaraan yang ia pergunakan berbahan bakar gas.

Sayangnya, hingga datang kabar bahwa guru besar ITB kelahiran Magelang 16 September 1951 ini meninggal dunia saat mendaki ke puncak Gunung Tambora dua hari lalu, semua prinsip yang diperjuangkan masih cuma menjadi wacana yang mengisi halaman surat kabar. Usul kenaikan harga BBM bersubsidi yang gencar dikampanyekan Pak Wid ditelikung politisi di Senayan. Sedangkan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi sekali lagi dijadwalkan, tanpa ada jaminan pasti dilaksanakan.

Ada perasaan risau. Apakah akan muncul penerus yang dengan setia selalu mengingatkan bahwa Indonesia bukan lagi tanah surga, yang di permukaannya tanaman tumbuh subur dan di dalamnya minyak dan gas setia menunggu untuk digali.

Secara kualitas keilmuan, mungkin ada banyak tokoh lain yang memiliki gelar lebih banyak daripada Pak Wid. Namun, apakah dia juga memiliki keberanian dan ketabahan untuk konsisten menyampaikan fakta yang tidak enak didengar, apalagi dirasakan, tapi itulah yang akan terjadi di negara ini lima hingga sepuluh tahun ke depan. (tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s