Ekonomi Urban Center

Catatan : Rhenald Kasali

Dari Bandara Internasional San Francisco, Rabu minggu lalu saya sudah siap meluncur menuju kota satelit di Castro Valley yang berjarak sekitar 100 mil. Kalau sepuluh tahun lalu saya minta dijemput, kini saya merasa lebih nyaman mengemudikan sendiri mobil sewa yang sudah saya pesan lewat internet. Sebuah alat pemandu jalan digital (GPS) yang dipandu oleh satelit sudah di tangan. Kami membayar sekitar USD 500 untuk sewa mobil SUV yang sudah diisi penuh bensin nonsubsidi dan asuransi selama empat hari. Perkiraan saya, paling lama satu jam sudah sampai. Namun, di luar dugaan, perjalanan mulur menjadi dua jam.

Bukan macet penyebabnya, melainkan mesin GPS mengacaukan perjalanan. Setiap ada kota baru, kami ”dipaksa” exit, berkeliling barang lima belas menit, berputar-putar. Maklum, GPS punya cara berpikir sendiri. Namun, saya tak merasa dirugikan. Saya tersesat di antara industri yang dibangun dengan cara-cara berpikir baru, yaitu berkembang pesatnya start-up company di sekitar lembah Silikon dari San Francisco hingga San Jose. Kota-kota baru bermunculan, menarik orang-orang muda berpendidikan dari mancanegara, dan mereka menciptakan kesejahteraan-kesejahteraan baru bagi ekonomi California yang sempat bangkrut di bawah Gubernur Arnold Schwarzenegger.

Menurut sejumlah hasil penelitian, kehidupan manusia di awal abad ke-21 telah berubah menjadi komunitas-komunitas urban yang dibentuk oleh kewirausahaan dan industri properti. Bila pada tahun 1800 hanya 3 persen penduduk dunia yang tinggal di kota, pada abad ke-19 telah berubah menjadi 47 persen. Kota- kota lama seperti Baghdat, Kairo, dan Roma menjadi pusat kegiatan para elite dan pengambil keputusan politik yang penting. Tetapi, di abad ini kota adalah segala-galanya. Menurut data dari PBB, tahun ini saja terdapat 3,8 miliar penduduk kota. Jadi wajar kalau Anda akan tersesat setiap memasuki kota-kota besar yang lama Anda tak kunjungi. Jangankan San Francisco, ke Bandung atau jalan-jalan ke daerah Bintaro saja Anda bisa tersesat.

Big Opportunity

Big problem, big opportunity. Bayangkan bila tiga di antara lima penduduk dunia sudah tinggal di daerah perkotaan, hilanglah memori masa lalu anak-anak kita tentang sawah dan belut, surau atau beduk, atau air yang mengalir dengan suara ayam jago yang membangunkan kita pagi hari. Demikian pula halnya dengan suara sapu lidi saat emak-emak menyapu jalan, Semua tergantikan oleh suara elektronik: alarm, loudspeaker, raungan suara ambulans, klakson mobil, serta tentu saja bantingan pintu mobil dan jingle TV.

Padahal, dulu kota adalah sebuah imajinasi keindahan. Filsuf Ibnu Khaldun, pada tahun 1382, mengatakan bahwa Kairo adalah metropolis of the universe, the garden of the world. Bahkan, Thomas Cagut yang mengagumi Venesia menyebutnya sebagai the most beautiful queen. Tak dapat saya bayangkan bagaimana dulu para khalifah tertarik dengan Jerusalem dan Damaskus, atau bagaimana para seniman-seniman tergila-gila dengan Paris dan Roma. Tetapi, sejak kota menciptakan daya gravitasi yang liar, ia telah berubah menjadi pusat segala masalah.

Di Praha saja, para penduduk kota begitu cemas karena tingkat pertumbuhan penduduknya rendah, tetapi ada satu komunitas yang justru tumbuh cepat, yaitu kaum gipsi. Masalahnya, kaum gipsi itu sulit diatur, hidupnya nomaden, dan banyak menimbulkan masalah kriminalitas. Tiga di antara empat pengutil yang ditangkap hampir pasti orang gipsi. Nah, kalau mereka menguasai kota, kekuatan politik pun akan berubah. Mereka akan menjadi penentu masa depan. Sama dengan benturan budaya yang terjadi di Brussel, Belgia, dengan komunitas yang berasal dari kelompok arab.

Singkat cerita, banyak masalah adalah banyak peluang. Bahkan, kesejahteraan suatu bangsa, menurut dari ahli urban economics, kelak akan ditentukan bagaimana bangsa itu memilih wali kota-wali kota dan gubernur-gubernurnya, bukan lagi presiden. Menurut Marc Weis dari Prague Institute for Global Urban Development, cities are the fundamental blocks of prosperity. Jadi, bila Anda salah memilih wali kota, Anda akan menyaksikan kemiskinan dan keadilan berada di sekeliling kota tempat tinggal Anda. Dengan demikian, kesejahteraan manusia abad ini ditentukan oleh kualitas penataan kota-kota itu.

Kota-kota besar tengah bergeser menjadi semacam manorial government seperti yang pernah dialami Virginia dan Massachusetts di abad ke-18 bahwa pemerintahan dikuasai para pengembang properti. Kota lebih tertata, tetapi mereka bisa mengubah peta demokrasi dan suara orang kota lewat kekayaan dan tanah yang mereka kuasai. Jalan-jalan mereka ubah dan persoalan-persoalan kota mereka ciptakan. Jangan-jangan itu pula yang tengah terjadi sekitar megacities Jabodetabek dan Surabaya.

Global GDP

Mckinsey Global Institute (MGI) belum lama ini mengeluarkan hasil penelitiannya yang dilakukan terhadap 2.000 metropolitan area di seluruh dunia. Studi itu menyimpulkan bahwa 60 persen global GDP ternyata telah dihasilkan oleh hanya 600 kota (urban center) di seluruh dunia. Bila pada 2007, 308 kota besar itu berada di negara-negara maju, dan dari negara berkembang hanya berkontribusi 10 persen dari Global GDP, pada tahun ini kekuatan itu justru datang dari negara-negara sedang berkembang.

Hanya, MGI mengingatkan bahwa potensi tersebut tengah bergeser dari begacities (dengan penduduk di atas 10 juta) ke kota-kota menengah (penduduk antara 150.000 hingga 1 juta jiwa). Hari ini saja kontribusi ke 23 megacities itu hanya 14 persen dari global GDP dan akan turun menjadi 10 persen pada 2025. Sedangkan midcities yang berjumlah 577 juta, pada 2025 akan memberikan kontribusi di atas 50 persen terhadap pertumbuhan GDP global.

Anda tentu ingin tahu di mana saja pusat-pusat masalah, eks pusat peluang ekonomi dunia tersebut. Menurut majalah Far Eastern Economic Review, pada 2025 di Asia akan ada sepuluh kota mega dengan penduduk di atas 20 juta. Di antaranya, Mumbay (33 juta jiwa), Shanghai (27 juta jiwa), Karachi (26,5 juta jiwa), Daka (26 juta jiwa), dan Jakarta (24,9 juta jiwa).

Kota-kota tersebut menjadi pusat pergerakan uang, manusia, politik, jasa-jasa baru, kewirausahaan, inovasi, pendidikan, dan tentu saja kriminalitas. Bisnis akan tetap senang berkumpul di kota-kota besar karena mayoritas pekerja usia produktif dan pemilik-pemilik bakat-bakat cemerlang ada di sana. Itu akan menjadi masalah baru dalam penataan ekonomi Indonesia ke depan.

Kalau sudah begitu, tak cukup hanya infrastruktur seperti irigasi yang perlu diberikan untuk mempertahankan keberadaan petani, melainkan insentif lain yang sangat menarik. Kalau tidak, anak-anak petani pun akan memilih berpindah ke kota dan tak ada lagi padi yang menguning. Wajar saja kalau tanah yang Anda gali bukan keluar air bersih, melainkan tomcat dan hama-hama yang tak pernah Anda kenal.(*)

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s