Asteroidpreneur

Oleh Rhenald Kasali

IMPIAN di masa kecil bisa berdampak di masa depan kalau Anda punya kecerdasan otot (myelin) untuk menemukan “pintu-pintu”-nya. Tentukanlah!

Pesan seperti itu sudah sering saya ucapkan, tetapi menjadi semakin riil saat saya bertemu seorang spacecraft engineer yang sedang berlibur di Butchart Gardens yang sejuk di British Columbia, Kanada. Pria keturunan Rusia yang meraih gelar PhD dari Stanford itu bekerja pada dua “pemimpin” besar, yaitu Eric Anderson -yang dikenal sebagai pengusaha biro perjalanan wisata ke luar angkasa (space adventures) dan sudah menerbangkan tujuh miliuner- serta Peter Diamandis -pendiri Ansari X-Prize Foundation, lembaga pengembang teknologi luar angkasa.

Dua orang itu baru saja mendirikan Planetary Resources Inc yang akhir bulan lalu diluncurkan. Semua orang terkejut karena keduanya datang dengan gagasan yang orisinal, yaitu menambang asteroid. Ya, ketika para insinyur Indonesia menekuni bisnis kue serabi, pecel lele, ayam bakar, jamur goreng, dan kebab, insinyur-insinyur kelas dunia sudah menjelajahi luar angkasa. Anda mungkin ingin membantahnya. Mungkin Anda bukan insinyur kuliner yang saya maksud. Tetapi, bukankah insinyur-insinyur kita belum merealisasikan mimpi-mimpi di masa kecilnya dengan ilmu yang sudah ada di kepalanya?

Di pulau terpencil di Maluku dan Papua saya sering bertemu dengan insinyur-insinyur lulusan sekolah-sekolah terkenal yang sibuk menambang di perut bumi. Keluarganya hidup tenang dengan gaji besar, namun terlihat gelisah menjelang berakhirnya hak penambangan atau habisnya cadangan. Tak ada creative thinking yang benar-benar kreatif.

Di Butchart Gardens insinyur spacecraft yang saya temui begitu tergila-gila bercerita tentang impiannya membangun robot untuk menambang logam sekelas platinum dari asteroid yang mendekati bumi.

Bergeraklah!

Di hotel kecil tempat saya menginap di Kanada malam itu saya mencari literatur dan info yang saya terima dari insinyur tersebut. Seorang profesor yang saya kenal di Universitas Yale juga saya hubungi. Ternyata, apa yang diceritakan insinyur tersebut benar-benar riil.

Di dalam tim yang dibangun Planetary Resources ada nama-nama besar dari Google, seperti Eric Schmidt dan Larry Page. Ada putra billioner yang pernah menjadi penantang Bill Clinton menjadi presiden dari kubu independen, Ross Perot. Lalu, ada mantan astronot Tom Jones, scientist Sara Seager, dan pembuat film science fiction James Cameron.

Justru kehadiran James Cameron-lah yang menjadikan penambangan asteroid berita yang penuh humor. Stasiun televisi CBS bertanya kepada repoter ahlinya begini, “Is this real or just a science fiction?” Reporter ahli itu menjelaskan bahwa kali ini yang mereka dengar adalah riil. Inilah era baru yang disebut sebagai asteroidpreneurship.

Asteroidpreneur tidak membangun usaha dari apa yang sudah dilakukan orang lain. Metodenya bukan ATM (amati, tiru, dan modifikasi) yang sering disebutkan para motivator dadakan. Mereka benar-benar menciptakan sesuatu yang baru dan orisinal dengan berbekal pengetahuan dan data.

Asteroidpreneur juga mengambil risiko sedahsyat kecepatan asteroid memasuki atmosfer bumi, tetapi mereka berhitung. Coba bayangkan investasinya. Saya baca dari sebuah literatur, untuk membuat robotnya saja dibutuhkan investasi USD 2,6 miliar. Investasi itu tidak kecil, apalagi return-nya belum pasti.

Pertama, mereka perlu membuat robot. Pilihannya ada dua, robot itu menambang di luar angkasa atau sekadar menggandeng asteroid pulang ke bumi dan ditambang di sini. Kedua, mereka perlu satelit yang dilengkapi dengan teleskop dan scanner bahan-bahan mineral. Satelit itu bertugas melakukan mapping dan menyeleksi mana asteroid yang paling “renyah” dengan kandungan mineral tinggi.

Ketiga, membangun industri pengolahan. Dan keempat, perhitungkanlah dampak perubahan harga. Logam-logam yang diduga ada di asteroid adalah logam keluarga platinum, mulai platinum, paladium, osmium, dan iridium. Saat ini platinum saja harganya hanya terpaut sedikit di bawah emas. Menurut perhitungan, dari satu unit asteroid ukuran sedang bisa ditambang sekitar 130 ton platinum dan dihasilkan USD 6 miliar.

Tetapi, return sebesar itu hanya bisa dinikmati dengan asumsi terjadi kelangkaan. Kalau penambangan asteroid jadi dilakukan dan hasilnya bisa digarap besar-besaran, sudah pasti harganya akan turun dan asteroidpreneur harus memperhitungkannya. Apalagi, setiap kali misinya, biaya operasional sekitar USD 30 juta.

Namun, bagi asteroidpreneur, berhitung bukan untuk menghindari kesempatan. Melainkan untuk bergerak seperti saat Christopher Columbus mengajukan proposal kepada raja Portugal untuk mengeksplorasi dunia lewat jalur Atlantik. Dua kali proposalnya ditolak. Dia tidak menyerah. Hampir semua orang kaya Eropa (saat itu adalah raja) dia dekati. Bukan bank. Raja Inggris menunda-nunda proposalnya. Namun, berkat Ratu Isabel, Columbus berhasil menjelajahi Atlantik. Tetapi, misinya gagal mencapai India, terdampar di Amerika.

Tetapi, meski dia gagal, dunia diuntungkan. Saat diolok-olok penjelajah lain dia hanya berkata ringan, “Hanya orang malas yang tidak bergerak, orang-orang ini hanya pintar bicara tanpa pernah berbuat. Tetapi, kalau Anda bergerak, kemungkinan tersasar pasti ada. Tetapi, kalau Anda tak mau kesasar, Anda tak pernah menemukan jalan baru.”

Saya kira itulah pedoman hidup asteroidpreneur. Berani mencoba? (*)

*) Guru besarFE Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s