Operasi Mossad yang Gagal, dan Investigasi Racun Yasser Arafat

PAGI itu Khalid Mishaal keluar dari rumahnya. Dua pengawal mengikuti kepala biro politik Hamas itu. Mereka bermobil menuju ke kantornya di wilayah Syamiyah Pusat, Amman, Jordania. Khalid merasa ada yang tidak beres; sebuah mobil terus mengikuti. Tapi, Khalid tidak memberitahukan kepada pengawalnya di mobil lain.

Sebelum sampai di Kantor Hamas, mobil misterius itu menyalip mobil yang dia tumpangi dan berhenti. Lalu, keluarlah dua pria berkacamata hitam. Keduanya mendekati mobil Khalid.

Dia memilih keluar dengan perlahan-lahan ke arah belakang mobil. Dua orang tersebut tiba-tiba menyerang dan menyuntikkan racun berbahaya ke telinga Khalid.

Setelah merasa operasi jahat itu terlaksana, keduanya menderu kabur. Abu Saif, salah satu pengawal Khalid, mengejar. Untuk menghilangkan jejak, kedua buruannya berpindah ke mobil lain yang telah menunggunya, sekitar 300 meter dari TKP, dekat Restoran Attsarawat.

Abu Saif terus mengejarnya hingga di jalan-jalan permukiman. Sampai di Jalan Madinah Munawwarah, keduanya pindah lagi ke mobil lain. Namun, kali ini Abu Saif berhasil menghadang mereka. Orang yang berada di mobil langsung tancap gas, ditengarai hendak berlindung di Kedutaan Israel, sekitar satu kilometer dari TKP. Sedangkan kedua penyerang Khalid tertinggal.

Mereka lalu menyerang Abu Saif dengan pisau dan berhasil melukai anggota Hamas itu. Mendengar ada keributan, warga sekitar pun berkumpul. Abu Saif berteriak bahwa dia berkelahi dengan anggota Mossad yang mengincar Khalid. Mereka kemudian ikut membantu dan menangkap kedua penjahat tersebut.

Secara kebetulan juga seorang perwira Tentara Pembebasan Palestina (PLA) ada di lokasi. Dialah yang membawa kedua pelaku ke kantor polisi di Wadi Seir.

Tak lama kemudian pihak Hamas menyiarkan peristiwa itu. Misi pembunuhan yang gagal itu diceritakan dengan cukup apik oleh seorang jurnalis Australia Paul McGeough dalam bukunya, Kill Khalid. Dua bulan setelah kegagalan operasi Mossad itu, yaitu pada Selasa 24 Februari 1998, Danny Yatom menghadap PM Netanyahu untuk mundur sebagai direktur Mossad.

Danny Yatom kemudian menulis buku yang berjudul Mitra Rahasia yang membahas operasi pembunuhan Khalid Misaal yang gagal itu. Dia bahkan menulis secara rinci skenario pembunuhan pemimpin Hamas pada 25 Desember 1997 itu, dan bagaimana agen Mossad gagal menjalankannya.

Yatom juga menuliskan bahwa Pusat Penelitian Biologi Israellah yang menyiapkan racun pembunuh itu, dan racun itu pernah digunakan Mossad untuk membunuh Wadie Haddad, pemimpin di Front Kebangsaan Palestina.

Operasi agen intelijen Israel juga pernah terkuak saat aksi pembunuhan dilakukan di Dubai pada 20 Januari 2010. Saat itu target operasi (TO) Mossad juga tokoh militer Hamas, Mahmud Abdel Rauf al-Mabhuh.

Operasi itu terbongkar dengan cepat berkat rekaman CCTV yang dipasang di hotel tempat pentolan Hamas itu menginap. Kepala Polisi Dubai Dahi Halfan Tamim kala itu mengungkapkan, berkat rekaman kamera itulah akhirnya terungkap identitas dan gerak-gerik tim pembunuh Al Mabhuh, 50, yang berjumlah 11 orang dan berpaspor sejumlah negara Eropa.

Menurut Dahi, dari sebelas tersangka pembunuh itu adalah seorang berpaspor Prancis, seorang berpaspor Jerman, seorang berpaspor Irlandia, dan 6 orang berpaspor Inggris. Isu paspor itu memicu krisis hubungan diplomasi antara Israel dan empat negara Eropa tersebut. Bahkan, saat itu Dahi juga meminta kepala Interpol menangkap Direktur Mossad Meir Dagan.

Kasus pembunuhan Al Mabhuh, dan percobaan pembunuhan Khalid Mishaal hanyalah segelintir operasi Mossad. Mossad atau dalam bahasa Ibrani disebut Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim yang berkantor di Tel Aviv, Israel, didirikan pada 13 Desember 1949.

Setelah digemparkan dengan kasus pembunuhan Al Mabhuh, dan Khalid, kali ini kita dibuat kaget dengan terungkapnya kasus kematian Presiden Palestina Yasser Arafat. Pada 4 Juli lalu Institut de Radiophysique, University of Lausanne, Swiss, mengumumkan hasil penyelidikan terhadap kematian tokoh penerima nobel perdamaian pada 1994 tersebut.

Lembaga itu menemukan terlalu banyak bahan radioktif polonium-210 di pakaian Arafat. Pernyataan tegas disampaikan stasiun televisi Al-Jazeera. Stasiun televisi itu menyatakan Arafat tewas setelah diracun dengan polonium. Hal senada diungkapkan para pejabat Palestina. Bahkan, mereka menyatakan bahwa Israellah yang menjadi dalang kematian Arafat.

Pernyataan pejabat Palestina itu didasarkan bukti bahwa selama ini yang memiliki polonium hanya Amerika Serikat, Israel, dan Rusia.

Palestina siap membongkar makam Arafat dan melakukan pemeriksaan post mortem terhadap jasadnya. Setelah terbukti bahwa Arafat mati diracun, barulah dilakukan penyelidikan siapa dalangnya. Tentu hal itu tidaklah gampang. Apalagi, yang dituduh adalah agen Mossad yang lihai. Maka, desakan untuk membentuk komite investigasi internasional tampaknya harus dilakukan. Siapa tahu langkah itu bisa menuntaskan mission impossible ini.(*).

Khafidlul Ulum
Wartawan Jawa Pos (dimuat di JawaPos 10 Juli 2012)

Tinggalkan komentar

Filed under politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s