Ketika Negara Berkembang Patungan Devisa untuk Memberi Utang Benua Biru via IMF

Injeksi Modal, Stabilkan Ekonomi Global

Pro-kontra membayangi rencana Indonesia memberikan utang kepada IMF. Luka lama bangsa Indonesia yang pernah “diinjak-injak” lembaga yang dimotori negara-negara maju itu kembali terbuka.

FOTO yang diambil pada 15 Januari 1998 itu amat terkenal dan terkenang. Tangan Michael Camdessus, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) kala itu, bersedekap angkuh sambil mengawasi Soeharto, presiden RI, yang membungkuk membubuhkan tanda tangan. Presiden yang telah berkuasa 32 tahun tersebut akhirnya tak berdaya menghadapi badai krisis moneter Asia yang menerpa perekonomian tanah air.

Soeharto bertekuk lutut dan menandatangani letters of intent (LoI) untuk mengikuti program austerity atau pengencangan anggaran nasional. Indonesia pun masuk dalam pengawasan lembaga keuangan multilateral tersebut hingga 2002. Indonesia mesti menjalankan sejumlah resep IMF seperti deregulasi perbankan dan privatisasi perusahaan negara. Total pinjaman yang dikucurkan mencapai USD 23 miliar. Pada pertengahan 2006, seiring dengan menguatnya cadangan devisa, Indonesia mempercepat pelunasan utang kepada IMF.

Empat belas tahun berselang, cadangan devisa Indonesia kini telah mencapai USD 106,5 miliar. Bandingkan dengan saat Indonesia menghadapi krisis moneter yang hanya punya pertahanan devisa belasan miliar dolar. Ketika Asia yang dimotori Tiongkok dan India tengah menjadi penggerak perekonomian dunia, kini kawasan Eropa berjuang menghadapi krisis utang. Amerika Serikat pada 2008 lebih dulu diterpa krisis keuangan dan hingga kini masih tertatih meraih pulih.

Krisis utang di Eropa yang diawali tekornya anggaran Yunani terus merembet ke negara-negara dengan output ekonomi lebih besar seperti Portugal, Spanyol, dan Italia. Langkah penanganan di internal zona Euro belum menemukan titik terang. Ini membuat kelompok negara G20, termasuk Indonesia di dalamnya, turut menaruh perhatian besar terhadap penyelesaian krisis di Benua Biru itu. Pertengahan Juni lalu, 20 negara dengan output ekonomi terbesar berkomitmen menambah modal IMF. Modal itu dihimpun dari negara-negara anggota untuk memperkuat cadangan lembaga keuangan yang berkantor pusat di Washington itu dalam menghadapi krisis global.

Hingga kini, 37 negara telah berkomitmen meminjami IMF senilai USD 455,9 miliar. Penambahan modal dari negara-negara di zona Euro USD 197,9 miliar, Eropa nonzona Euro USD 42,2 miliar, serta dari luar Eropa USD 210,3 miliar. Sebagai satu-satunya anggota G20 dari Asia Tenggara, Indonesia berkomitmen meminjami IMF hingga USD 1 miliar. Tiga negara ASEAN lainnya, yakni Filipina, Thailand, dan Malaysia, memberikan komitmen serupa, masing-masing USD 1 miliar.

Menkeu Agus Martowardojo mengatakan, sebagai negara anggota G20, Indonesia harus turut memikul tanggung jawab terhadap situasi perekonomian dunia. Apalagi, komitmen yang sama sudah diberikan oleh anggota-anggota IMF yang lain. “Semua berkomitmen untuk membantu IMF dalam rangka menjaga ekonomi dunia,” kata Agus di Jakarta, kemarin (10/7).

Menkeu mengatakan, kontribusi Indonesia dalam penambahan modal IMF dilakukan dengan membeli obligasi yang diterbitkan lembaga itu. Pembelian obligasi menggunakan cadangan devisa Bank Indonesia (BI). IMF memang beranggota bank-bank sentral. Cadangan devisa tidak akan berkurang dengan pembelian obligasi tersebut karena surat utang IMF sudah diakui sebagai bagian dari cadangan devisa. Sedangkan BI mendapatkan bunga dari surat utang tersebut.

“Kalau ada penempatan dana itu akan dapat bunga,” katanya. Di IMF, tambahan modal digunakan sebagai pertahanan lini kedua. “Seandainya kita perlukan, kita bisa menarik lagi dana itu,” kata Agus.

Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, bagi bank sentral penempatan devisa dalam surat berharga merupakan hal lumrah. “Kita menempatkan surat berharga AS, Kanada, dan Jerman. Semuanya surat berharga supaya ada hasilnya,” katanya. Darmin belum menyebut bunga yang diperoleh BI dari surat utang itu. Mantan Dirjen Pajak Kemenkeu itu mengatakan, pembelian surat utang IMF dilakukan secara bilateral, sehingga tidak sama dengan pembelian di pasar. “Yang penting kan bukan nol,” kata Darmin.

Dia mencontohkan suku bunga US Treasury hanya 0,25 persen. Namun, tetap ada penempatan cadangan devisa ke instrumen itu karena dianggap safe haven atau sangat aman. “Kalau soal (bunga) rendah atau tinggi, di AS sudah paling rendah di dunia,” katanya.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan, penambahan modal IMF sudah menjadi komitmen negara G20. “Ini bukan hibah,” kata mantan Menkeu Prancis tersebut. (sof/c2/oki/jawapos)

Salah Resep Bikin Trauma

MENGULURKAN utang kepada IMF memang bukan persoalan kemampuan ekonomi semata. Bagi Indonesia, IMF adalah lembaga internasional yang cukup memberikan trauma tersendiri. Banyak yang menilai resep IMF telah gagal memperbaiki sendi perekonomian RI.

Sentimen negatif terhadap IMF juga teramat besar. Sampai-sampai banyak kalangan awam yang menganggap tumpukan utang Indonesia kebanyakan dari IMF. Padahal, utang Indonesia ke IMF yang lunas pada 2006 adalah pinjaman untuk memperkuat cadangan devisa.

Tak ada sepeser pun yang digunakan untuk membangun sebuah proyek. Hanya, resep ekonomi dan program pengawasan IMF telah banyak mendikte regulasi Indonesia hingga 2002. “Kita unhappy dengan IMF yang pernah salah terapi saat kita krisis 1998,” kata ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono.

Tony mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia memang masih positif dengan USD 106,5 miliar. Namun, angka tersebut sudah mendekati batas psikologis baru USD 100 miliar. “Setahun lalu, cadangan devisa kita USD 124 miliar sehingga mulai membayangkan bahwa suatu saat menjadi USD 200 miliar. Namun, karena zona euro terguncang, investor asing menubruk USD sehingga USD menguat, rupiah melemah, dan cadangan devisa kita terkikis,” katanya.

Menurut Tony, dampak psikologis cadangan devisa mendekati USD 100 miliar itu merupakan momentum yang tidak menguntungkan untuk membantu IMF. Tahun ini BI memang mati-matian menggunakan cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar rupiah. Bulan lalu BI telah menggerojok pasar dengan USD 5 miliar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Devisa tersebut hanya berhasil mempertahankan rupiah di posisi Rp 9.500 per USD. (sof/c11/oki/jawapos)

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s