Proses PK Hangky Gunawan Lebih Cepat, Diskon Besar

Diskon hukuman besar-besaran dari hakim agung untuk Hangky Gunawan memunculkan sejumlah tanda tanya besar. Jika dibandingkan dengan pelaku tindak pidana narkoba lainnya, hukuman bagi Hangky termasuk sangat ringan. Banyak napi dengan tingkat kejahatan lebih rendah, namun hukumannya sama atau bahkan lebih tinggi.

Sebut saja Ling Sao Chi. Warga Malaysia itu dijatuhi putusan pidana sama dengan Hangky, yakni 12 tahun penjara. Dia dinyatakan bersalah karena menyelundupkan heroin dengan berat total 624,68 gram. Hukuman tersebut terasa makin berat lantaran barang haram itu milik seseorang. Dia dimanfaatkan bandar narkoba karena kemampuan otaknya di bawah standar.

Toh, pengakuan tersebut tidak memengaruhi keyakinan dan hati nurani hakim. Meski dia bersikukuh jadi korban, masa hukuman lama tetap harus dijalani. Belum lagi masalah denda untuk pria 19 tahun itu yang jauh lebih tinggi daripada Hangky. Jika Hangky dikenai denda Rp 500 juta subsider empat bulan kurungan, adik Ling Jing Yng tersebut justru dikenai denda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan.

Kabar yang sering dia dengar menyebutkan bahwa sangat mahal untuk bisa mendapatkan hukuman ringan. Akhirnya, Ling Shao Chi pun harus puas sampai tingkat banding dalam mengajukan upaya hukum. Kini putusan yang diberikan kepadanya telah berkekuatan hukum tetap. “Itulah susahnya mencari keadilan,” ungkap Budi Sampurno, mantan kuasa hukum Ling Shao Chi.

Menurut Budi, hukuman peninjauan kembali (PK) Hangky saat ini sangat jomplang jika dibandingkan dengan putusan majelis hakim di pengadilan pertama, tingkat banding, dan kasasi. Lebih tidak sesuai lagi karena hukuman kasasi yang diberikan untuk Hangky di tingkat MA berupa pidana mati. “Jika memang tidak setuju dengan pidana mati, pidana penjara yang bisa dikenakan setidaknya 20 tahun atau hukuman badan maksimal,” ujar dia.

Secara logika, penjara selama 20 tahun dirasa lebih sesuai untuk menganulir hukuman mati. Hukuman badan tinggi itu juga tidak akan mencederai hati napi lain yang memperoleh hukuman tinggi, tapi tindak pidananya lebih ringan daripada Hangky.

Putusan PK hakim menyatakan bahwa Hangky bukan pemilik pabrik narkoba dan kegiatannya tidak terorganisasi. Namun, menurut Budi, itu sesungguhnya bukan alasan utama. Tidak mungkin sebuah pabrik narkoba akan dijalankan seperti perusahaan resmi, apalagi ada struktur organisasinya.

Sebaliknya, mereka berupaya untuk bekerja secara kentara dan mengesankan tanpa jaringan narkoba. “Kalau terorganisasi dengan manajemen baik, tentu akan mudah diketahui,” imbuhnya.

Dalam putusan PK Hangky, hakim agung memang menyetujui begitu saja memori PK yang dibikin Hangky. Di antaranya menyebutkan, saat penggerebekan oleh polisi, tak ditemukan sebutir ekstasi pun di rumah Hangky. Yang ada hanya bahan penyusun ekstasi.

Namun, dalam putusan itu, hakim melupakan hasil pengujian laboratorium yang dilakukan polisi dan menyatakan bahwa dari rumah Hangky ditemukan banyak bahan yang mengandung metilendioksimetamfetamin. Zat kimia tersebut terdaftar sebagai narkoba golongan I dalam UU No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Sederet barang bukti tersebut juga diajukan dalam persidangan oleh jaksa. Yang lebih ganjil lagi, hakim menyatakan bahwa kasus yang melibatkan Hangky bukan produksi ekstasi yang dilakukan secara terorganisasi.

Padahal, dalam persidangan jelas-jelas terungkap rangkaian perkara kasus tersebut. Yakni bermula dari tertangkapnya salah seorang anggota jaringan Hangky bernama Awe. Kepada polisi, Awe mengaku selama ini mendapatkan ribuan butir ekstasi dari Hangky. Bahkan, Hangky juga pernah memerintah anak buahnya, Suwarno, mengirimkan paket ekstasi kepada Awe. Saat diperiksa, Awe menunjuk hidung Hangky sebagai produsen.

Bandingkan juga dengan putusan terhadap Ponijo alias Benny. Hakim PN Surabaya menyatakan, pria pemilik 4.100 butir ekstasi itu divonis 13 tahun penjara. Bukan hanya itu, Benny juga dibebani membayar denda Rp 1 miliar. Melongok vonis Hangky, produsen kok malah divonis lebih ringan.

Proses turunnya putusan PK Hangky juga sangat cepat jika dibandingkan dengan PK napi yang lain. Dalam waktu setahun, Hangky sudah mendapatkan kepastian hukum. Padahal, untuk perkara korupsi, rata-rata mereka harus menunggu selama bertahun-tahun. Misalnya kasus korupsi KPU dengan tersangka Haribowo Soekotjo. Untuk memperoleh putusan dari hakim agung, dia harus menunggu selama hampir tiga tahun, sejak Februari 2008 hingga November 2011.

Raheem Agbaje Salami, warga Cordova, divonis mati karena menyelundupkan 5 kilogram heroin di Bandara Juanda Surabaya pada awal 1999, hingga kini pun hukumannya masih hukuman mati. Begitu juga Nurhasan Yogi yang melakukan serangkaian pembunuhan mulai 16 Februari 2002, Agustus 2002, dan pada 2005, hukumannya tetap mati. Dia juga mengajukan PK sejak beberapa tahun yang lalu, namun sampai sekarang putusannya belum keluar. (may/eko/c9/fat/jawapos)

Kalah Mujur Dibanding Hangky

DARI SISI PUTUSAN

Ling Sao Chi
Kasus : Penyelundup 624,68 gram heroin
Hukuman : PN hingga PT 12 tahun penjara
Perlakuan : Bukan produsen, tapi hukumannya sama dengan Hangky

Benny alias Ponijo
Kasus : Kepemilikan 4.100 ineks
Hukuman : PN Surabaya 13 tahun penjara
Perlakuan : Bukan pemroduksi, hukumannya lebih berat daripada Hangky

DARI SISI WAKTU PUTUSAN

Haribowo Soekotjo
Kasus: Korupsi KPU
Hukuman: Tiga tahun penjara
Lama menunggu kasasi: Tiga tahun, kalah dibanding Hangky yang hanya enam bulan dan proses PK satu tahun

Nurhasan Yogi
Kasus: Pembunuhan pada 2005
Hukuman: Mati
PK: Sudah mengajukan sejak 2008, tapi putusan belum turun

Hangky Gunawan
Kasus: pemilik pabrik ekstasi di Perumahan Graha Famili
Hukuman: 12 tahun penjara di tingkat PK, menganulir vonis mati kasasi
Proses: Kasasi 6 bulan, PK satu tahun

Tinggalkan komentar

Filed under Hukum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s