Sabun Dari Kulit Durian Inovasi dari Mahasiswa Unair

Kulit durian yang biasanya dibuang ternyata bisa disulap menjadi barang yang bermanfaat. Melalui tangan lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), kulit durian diolah menjadi sabun ramah lingkungan.

Meski sedang libur kuliah, Mahenda Abdillah Kamil masih datang ke kampus C Unair. “Memang tidak ada kuliah, tapi ada pertemuan dengan teman-teman,” ujarnya dua hari lalu (13/7). Tidak hanya satu agenda, dia mempunyai dua kegiatan sekaligus. Yaitu, pertemuan membahas persiapan masa orientasi mahasiswa baru dan pertemuan dengan tim penelitiannya.

Untuk bertemu dengan tim penelitian, dia membawa berkas khusus. Di antaranya, lembaran berisi data penelitian dan poster berisi latar belakang, tujuan penelitian, tahap penelitian, dan hasil penelitian. Di poster itu juga tertulis nama lima mahasiswa yang menjadi anggota tim. Selain Mahenda, ada Robbyke Ogistyawan, Erika Herdiana, Vira Faramidha, dan Desy Ari Riski.

Poster berwarna kuning itu menjadi pengganti proposal. “Kalau ini kan cukup ringkas dan mudah dibaca,” jelas pria asal Desa Bungurasih, Waru, Sidoarjo, tersebut. Dia juga membawa beberapa cetakan kue.

Cetakan kue berbentuk bunga itu tidak kosong, tapi sudah terisi. Dilihat dari jauh, cetakan tersebut berisi barang seperti kue. Tapi, saat didekati dan disentuh, bau harum langsung menyeruak. Baunya seperti sabun yang banyak dijual di toko.

Mahenda menyatakan, isi cetakan itu memang sabun, tapi bukan sabun biasa. Itu adalah sabun dari kulit durian hasil penelitian dia dan timnya. Bau harum dari sabun tersebut natural, bukan karena diberi zat pewangi.

Siang itu Mahenda bersama dua teman lain, Ogis -sapaan akrab Robbyke Ogistyawan- dan Erika Herdiana, menjelaskan latar belakang dan awal mula pembuatan sabun dari kulit durian. “Kami hanya bertiga, yang lain masih ada acara keluarga,” jelas Mahenda.

Dia lantas menunjukkan lima sabun. Tiga sabun terbuat dari kulit durian dan dua sabun biasa yang juga dicetak dengan cetakan kue.

Dua jenis sabun batangan itu berbeda. Sabun dari kulit durian berwarna cokelat, sedangkan sabun biasa berwarna putih. Mahenda sengaja membuat sabun biasa untuk dijadikan pembanding. Sabun dari kulit durian akan diikutkan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang diadakan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Alumnus MA Mu’allimin Muhammadiyah, Jogjakarta, itu pun menjelaskan ide pembuatan sabun dari kulit durian. “Idenya muncul dari saya,” katanya. Sebenarnya ide membuat sabun dari kulit durian tersebut sudah muncul cukup lama, yaitu sejak dia masih duduk di bangku MA. Ide itu bermula dari kesukaannya memakan durian. Mahasiswa prodi statistik semester dua tersebut hobi berat memakan durian.

Biasanya, setelah makan durian, dia mencuci tangannya dengan sabun agar baunya bisa hilang. Suatu saat dia ditegur orang tuanya. Dia disarankan untuk mencuci tangan dengan air yang diletakkan di cekungan kulit durian.

Mahenda lantas melaksanakan saran tersebut. Setelah makan durian, cekungan kulit durian diisi dengan air, kemudian dipakai untuk mencuci tangan. Ternyata betul, bau yang ada di tangannya langsung hilang. Dia semakin penasaran dengan kandungan yang ada di dalam kulit durian, terutama kulit bagian dalam. Bagaimana bisa kulit itu bisa menghilangkan bau. Akhirnya terpikir, bagaimana jika kulit durian dijadikan bahan sabun.

Saat itu dia ingin meneliti kandungan kulit tersebut. Tapi, dia sudah keburu lulus MA dan diterima di Unair. Setelah masuk Unair, keinginannya melakukan penelitian semakin kuat. Dia pun mematangkan rencana itu. Meski mahasiswa statistik, dia tidak kehilangan akal. Mahenda mengajak mahasiswa jurusan lain. Akhirnya, terkumpullah empat teman dari jurusan biologi dan kimia.

Mereka pun sepakat meneliti sabun dari kulit durian. Mereka mengumpulkan berbagai referensi dan menulis proposal penelitian. Proposal itu dikirim ke Dikti untuk diikutkan Pimnas. Dikti pun tertarik dengan proposal penelitian tersebut dan menyetujuinya.”November 2012, proposal kami disetujui. Kami akhirnya mendapat dana penelitian dari Dikti,” kata Mahenda. Para mahasiswa itu pun semakin semangat melakukan penelitian.

Yang pertama mereka cari adalah kulit durian. Agar biaya penelitian tidak terlalu mahal, mereka mencari kulit durian dari para pedagang yang mangkal di pinggir jalan. Mereka berbagi tugas, ada yang mencari di Sidoarjo, ada juga di Surabaya. “Saya muter-muter di jalan untuk mencari pedagang durian,” kata Mahenda. Dia akhirnya mendapatkan banyak kulit durian di daerah Sepanjang, Sidoarjo.

Ogis menyatakan, selain mencari kulit durian dari pedagang, dia aktif mengirim SMS ke teman-teman kuliah agar mereka tidak membuang kulit durian. “Kebetulan waktu itu musim durian. Jadi, kami mendapatkan banyak kulit,” kata mahasiswa jurusan biologi tersebut. Setelah terkumpul, kulit itu dikupas dan dipisahkan antara bagian dalam dan bagian luar.

Kulit bagian dalam itulah yang dijadikan bahan untuk sabun. Setelah dipisah, kulit bagian dalam dipotong kecil-kecil dan diangin-anginkan. Tempat untuk mengangin-anginkan tidak boleh terlalu lembap dan tidak boleh terlalu panas. Jika terlalu lembap dan panas, kulit durian bisa rusak.

Setelah kering, bahan itu digiling sampai hancur. Proses selanjutnya, dilakukan maserasi, yaitu ekstrak kulit durian direndam dengan etanol. Ogis menyatakan, sebelum dijadikan sabun, dilakukan uji screening fitokimia, yaitu menguji kandungan yang terdapat dalam ekstrak kulit durian.

Dari hasil uji screening fitokimia diketahui bahwa kulit durian mengandung tiga senyawa, yaitu terpenoid, alkaloid, dan saponin. Erika -sapaan akrab Erika Herdiana- menambahkan, terpenoid dan alkaloid adalah zat antibakterial. Menurut dia, zat itulah yang bisa menghilangkan bau karena sebenarnya bau termasuk bakteri. Sedangkan saponin adalah zat yang mengandung bui.

Setelah uji screening selesai, pembuatan sabun dimulai. Ada beberapa bahan yang digunakan. Di antaranya, chipsoap, lexainec, fixolite, dan carbowax. Bahan-bahan itu dididihkan terlebih dahulu sekitar setengah jam. Setelah itu, dicampur ekstrak kulit durian dan etanol.

Proses selanjutnya, bahan yang sudah dicampur tersebut dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah didiamkan selama 2-3 jam, bahan itu mengering dan menjadi sabun.

Erika menyatakan, saat ini timnya masih menggunakan cetakan kue untuk mencetak sabun tersebut. Cetakan kue digunakan karena bentuknya lucu. “Kami akan mencari cetakan yang lebih menarik,” jelas mahasiswa jurusan kimia itu.

Mahenda menambahkan, sabun karya timnya tersebut mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan sabun-sabun yang ada di pasaran. Sabun itu sangat ramah lingkungan karena menggunakan kulit durian yang selama ini hanya menjadi limbah. Selain itu, sabun tersebut tidak meninggalkan sisa karena menggunakan kelereng di bagian tengahnya.

Kelereng digunakan agar sabun bisa digunakan sampai habis dan tidak ada yang tersisa. Menurut dia, yang tersisa nanti hanya kelereng. Selama ini sabun biasa selalu tidak habis saat digunakan dan meninggalkan sisa yang menjadi limbah. Dengan menggunakan kelereng, tidak ada limbah yang tersisa. “Ini juga ramah lingkungan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, sabun kulit durian juga mampu menghilangkan bau tak sedap. Mahenda sudah pernah menguji kemampuan sabun tersebut dan sabun biasa dalam menghilangkan bau terasi. Seorang mahasiswa diminta untuk mencuci tangan yang terkena terasi dengan sabun biasa, sedangkan mahasiswa lain mencuci tangan dengan sabun kulit durian. Hasilnya, tangan mahasiswa yang mencuci dengan sabun biasa masih bau terasi, sedangkan mahasiswa yang mencuci dengan sabun kulit durian tidak meninggalkan bau. “Sebab, kulit durian mengandung zat yang bisa menghilangkan bau,” katanya.

Memang, lanjut Mahenda, awalnya tidak mudah membuat sabun itu. Dia dan timnya harus melewati beberapa kegagalan. Kali pertama membuat, sabun yang dihasilkan hanya mengeluarkan sedikit busa. Mereka mencoba lagi dengan menambah lexainec. Setelah ditambah bahan, sabun itu akhirnya mengeluarkan busa cukup banyak. Selain itu, pada saat proses mengangin-anginkan kulit durian, tempat yang digunakan terlalu lembap sehingga banyak yang rusak dan tidak bisa digunakan. Dia dan timnya akhirnya mencari lagi kulit durian.

Sekarang sabun dari kulit durian sudah jadi. Pada Agustus nanti, karya mereka dikutkan Pimnas di Lombok. “Rabu depan, tim dari Dikti akan melakukan monev ke Unair untuk melihat penelitian kami,” jelas Mahenda. Ke depan, dia ingin menggandeng perusahaan untuk mengembangkan penelitian tersebut.

KHAFIDLUL ULUM

(*/c7/nw/jawapos)

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s