Kepala Religius versus Pinggul Sekuler

Ramadan dan banyak hijaber dadakan. Sebagian berwujud selebriti di aneka acara berbalut religi, tapi sebenarnya variety show biasa dengan bahan candaan yang sama sekali tak agamais. Sebagian lagi di jalan, di mal, di pengajian, di acara buka puasa bersama, di acara amal, dan lain-lain. Para hijaber kasuistik. Yang berhijab karena menyesuaikan tema bulan.

Teman saya, gadis cantik bernama Cahya, adalah pendiri salah satu komunitas besar perempuan berhijab di Indonesia dengan kegiatan yang tersebar di 30 kota. Motivasi awalnya saat berhijab adalah menutup pesona. Dia lelah salah dimaknai lingkungan karena penampilan fisiknya. Ternyata, hijab membuka banyak peluang, mulai model, make-up artist, pengajar tari saman, usaha toko online, hingga jadi pemenang kompetisi perempuan profesional yang diadakan sebuah perusahaan kosmetik.

Novi Amalia pun berjilbab :) Jilbab itu selain buat ke masjid, juga pakaian wajib untuk di persidangan!

Saya membaca sebuah tulisan pendek kemarin, edisi akhir pekan sebuah koran. Cerita tentang bagaimana perempuan memperlakukan tubuhnya. Tentang anak gadis yang ber-hot pants atas nama tubuhnya adalah milik dan haknya, maka pakaian adalah ekspresi diri dan kemerdekaan. Juga tentang seorang istri yang memilih berhijab-bercadar atas nama tubuhnya adalah milik-Nya. Wacana yang menarik dan membuat saya tergelitik. Bagaimana mereka yang menutup kepalanya, tetapi berbaju ketat di dada, di pinggul, dan berbahan menerawang. Mereka berbusana atas nama apa? Atas nama siapa?

Dari sebuah liputan CNN, saya menculik satu istilah menarik, “Jakarta is the new Mecca for moslem fashion industry.” Sebagai Makkah, Jakarta menjadi kiblat. Artinya, seluruh gaya berbusana muslimah di dunia ditentukan di sini. Bagai Paris, Jakarta adalah panutan untuk urusan tutup kepala, abaya, serta tunik. Tak aneh Dian Pelangi diundang fashion show hingga Paris. Jenahara, yang juga anak fashion designer sekaligus penyanyi Ida Royani, diundang ikut Hongkong Fashion Week.

Ibu saya sudah bergelar hajah. Setahun sebelum naik hají pun, hobinya sudah mengumpulkan hijab aneka model dan warna. Saat saya tanya kenapa berhijab, katanya karena umurnya. Sudah tak pantas ke sana kemari telanjang kepala.

Beberapa bulan lalu saya mengganti foto diri di kolom Halau Galau. Sebelumnya berpose sok misterius, hitam-putih dengan bibir merah merona. Lalu, untuk mengesankan bebas galau, saya menggantinya dengan foto tersenyum cerah dan rambut mengembang.

Tahu nggak, ada seorang pembaca, lelaki, yang mengirimi saya surat elektronik dan menegur. Intinya, dia menyayangkan, kenapa saya yang sebelumnya menutup kepala memutuskan untuk mengumbar rambut. Ini persepsi yang salah karena sejak awal rambut saya tak ditutup, malah bentuk baju yang ala kimono itu cukup terbuka, hanya diakali dengan disunting sebatas bahu. Ada penghakiman sepihak. Tuduhan berdasar sudut pandang. Seolah saya berubah isi hati dan kadar keimanan. Hanya karena perkara sepotong foto.

Dari semua potongan-potongan cerita tersebut, ada sesuatu yang menggelitik saya seputar hijab: kepala yang religius versus pinggul yang sekuler. Izinkan saya yang belum berhijab ini berbaik sangka dan mengungkapkan pendapat.

Terlepas dari hijab adalah perkara fenomena tren dan fashion, semoga semua perempuan berhijab memutuskan menutup auratnya karena panggilan hati. Anggaplah bahwa tren hijab ini adalah ajakan masal untuk berbuat kebaikan. Nah, sekarang waktunya masyarakat untuk sebaliknya menyekulerkan kepalanya dan mereligiuskan pinggulnya. Berpikir dan berbaik sangka terhadap perbedaan. Bahwa penampilan adalah pilihan dan ekspektasi karena pilihan penampilan itu wajar. Tapi, waktunya berhenti menghakimi dan bersikap sok benar. Waktunya belajar dan mampu menata hasratnya. Sebab, tubuh perempuan adalah berkah, bukan musibah, sehingga harus dituduh-tuduh memancing syahwat melulu. Kami, perempuan, lelah didakwa. (*/jawapos)

Kika Dhersy Putri, life-planner, prencana hidup untuk bebas dari galau overdosis

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s