Goldilocks dan Rupiah

Oleh Rhenald Kasali

Alkisah, Goldilocks adalah seorang gadis yang tengah kelaparan. Di tengah perjalanan di hutan, dia terhenti di sebuah rumah kayu yang ditempati tiga ekor beruang. Karena tidak ada yang membukakan pintu, dia pun masuk dan menikmati sup di meja.

Sup pertama ”terlalu panas”, dia beralih ke mangkuk berikutnya.

”Ini juga terlalu dingin.”

Dia pun mencicipi yang ketiga, ”Ahhh… this is just right,” ujarnya.

Goldilocks adalah dongeng yang sangat terkenal, yang diturunkan dari puisi karangan Robert Southey. Namun, dongengnya, Goldilocks and The Three Bears itu, menjadi terkenal saat Amerika Serikat mengendalikan pasar uangnya yang merembet ke sini.

Era Easy Money

Apa hubungan antara Goldilocks dan melemahnya rupiah?

Begini. Pada era Bill Clinton, untuk memacu perekonomian, The Fed menerapkan policy easy money. Untuk keluar dari business cycle yang membelenggu, angka bunga diturunkan, sehingga masyarakat lebih leluasa meminjam uang dan melakukan pengeluaran. Hasilnya lumayan, ekonomi bergerak, lapangan kerja pun tumbuh.

Tetapi, easy money bisa berakibat fatal dalam jangka panjang. Ia bisa memicu inflasi. Karena itulah, Goldilocks mengingatkan Amerika. Kalau terlalu panas, bisa memicu inflasi dan menghambat growth. Tetapi, kalau terlalu dingin, ia bisa menjadi resesi. Maka, yang tepat, suatu ketika harus dibuat kendali normal, ”just right”.

Namun, rupanya, proses politik bisa berkata lain. Politisi di mana-mana lebih senang melihat ”easy money”, sedangkan negarawan harus membawanya ke posisi ”just right”.

Tetapi, kalau politisi ingin terpilih kembali, pada akhir periodenya, mereka harus bisa memainkan ”easy money” lagi, sehingga politik easy money sulit diputus pada waktunya. Kalau sudah begitu, masyarakat sendiri yang akan rugi. Keluarnya juga tidak mudah. Tengoklah krisis ekonomi Amerika Serikat 2008 (subprime mortgage finance) yang memicu lahirnya ribuan ghost city. Semua orang dipacu mengambil kredit untuk membeli properti, kendati mampunya tidak cukup dan kebutuhannya belum ada.

Sekarang saja, student loans mengalami bencana. Dari nilai pinjaman USD 1 triliun, hanya 40 persen yang cicilannya lancar. Selebihnya, para lulusan masih sulit mencari pekerjaan, sehingga mencicil pun tertunda. Demikian pula yang terjadi dalam public housing, medicare, dan pension fund.

Maka, ketika The Fed mengambil langkah ketiga (posisi ”just right”), pasar modal di seluruh dunia pun berguncang. Dana-dana itu terpanggil kembali ke tempat semula. Pengaruhnya terasa di sini, rupiah ikut tersenggol dan melemah. Tetapi, tentu saja korban yang paling besar dan paling sulit diatasi adalah bila manajemen perekonomian negara itu sendiri amburadul.

Sektor Riil

Tentu saja easy money tidak hanya berpengaruh pada pasar modal. Kebijakan easy money di Amerika Serikat sudah memicu ekspor besar-besaran dari Tiongkok, Korea, Jepang, Hongkong, Thailand, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Daya beli yang kuat di Amerika memicu ekspor itu.

Sudah begitu, di Indonesia, pascareformasi, setelah mengadopsi demokrasi, tidak banyak yang menyadari bahwa kita tengah dilanda sindrom yang sama: Easy Money!

Benar! Uang begitu mudah ditemui di mana-mana, hanya tidak merata. Di berbagai daerah pelosok, setiap mengunjungi saudara-saudara yang menjadi politisi, saya sering bingung. Kok uang mereka banyak sekali. Nilainya pun bukan uang receh. Beli mobil, sewa kapal, membuat pesta, bayar pengacara, panggil ustad seleb, semua enteng.

Teman-teman saya yang menjadi peneliti di LSM juga sama saja. Nama gerakannya aliansi pembela rakyat, tetapi seminarnya selalu di hotel-hotel bintang lima di luar kota. Uangnya juga banyak. Yang jadi PNS kelihatannya tidak juga kurang uang. Rumah-rumah mereka cepat direnovasi.

Mobil-mobil Alphard mulai semakin sering kita lihat. Menikah yang kesekian semakin sering dilakukan secara terbuka. Perjalanan wisata tidak pernah kosong. Minat membeli polis asuransi begitu tinggi. Antrean untuk naik haji semakin panjang. Paket-paket umrah selalu penuh.

Dua minggu lalu, saat keluar dari dermaga Namlea di Pulau Buru pukul 03.48 WIT, dengan mata yang masih setengah terbuka, saya bisa melihat iring-iringan truk besar yang membawa puluhan sepeda motor baru memasuki pulau itu. Meski pertanian rusak karena tambang emas, rakyat di pulau terpencil tersebut lebih senang membeli beras impor yang berharga Rp 12.000 per kilo ketimbang beras lokal yang hanya Rp 7.000 per kilo.

Di kantor-kantor, mulai terbiasa melihat debt collector mencari-cari nasabah yang ”ngemplang”. Personal loans tengah menjadi masalah besar di kalangan pegawai. Wajar bila ahli personal finance mulai sering muncul dan menjadi profesi yang penting. Jangan lupa pula bila Ustad Jaya Komara saja dalam waktu singkat bisa menyedot Rp 6,6 triliun lewat Koperasi Langit Biru.

Saya berpikir, itu semua pasti ada akibatnya. Tidak mungkin ekonomi easy money berlangsung selama-lamanya. Ia pasti memicu masalah dan pada masanya bank sentral pasti akan menanganinya. Lalu, apa andalan kita? (*)

Rhenald Kasali, (@Rhenald_Kasali) – dimuat di JawaPos, 27/08/13

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s