Tenaga Kesehatan: antara Uang dan Kemanusiaan

Berturut2 bangsa ini terberikan berbagai fenomena untuk difikirkan. Setelah dulu para guru honorer, perangkat desa, sopir metromini, buruh, kini yang mulia para dokter pun ber DEMONSTRASI.

Seolah kata ini mempunyai gengsi dan pengaruh yang tinggi sehingga orang yang berprofesi apapun, memilihnya untuk menjadi satu-satu nya solusi mujarab gejala permasalahan apapun yg mereka hadapi.
Apakah karena didahului prestasi spektakuler para mahasiswa jaman reformasi? ataukah ini shortcut akan lmbatnya solusi jitu dn bijak yg tak kunjung datang?

Tentang shortcut. Saya teringat Munarman yg ingin segera menyudahi argumen lawan bicara dengan segelas air.
Mungkin itu pula yg ada di benak si pasien ketika kopi dianggap bs menyudahi insiden apapun antara dia dan sang dokter.

Ada apa? Demonstrasi dan kopi mnjadi jalan yg dipilih utk titik solusi?
Benar2 kah sudah tidak ada jalan yg memungkinkan bertemu di persimpangan?. Benar2 kah sudah habis waktu dan ide dari manusia yg dimulyakan atas makhluk lain krn dibekalkanNya akal pikiran?

Guru, murid, mahasiswa, pemerintah, sopir, penumpang, buruh, pengusaha, dokter, pasien..hanya beda dlm sebutannya. Hakikatnya adalah manusia yang lena. Hakikatnya adalah elemen pelengkap berjalannya roda dunia. Hakikatnya adalah penghargaan satu sama lain dg tidak melihat mana yg lebih tinggi, yg lebih berhak dilayani, yang lebih berhak dihormati.

Teringat cerita Budhe yang bertetangga dengan seorang bidan desa. Alkisah bidan tersebut adlh warga baru di lingkungan tersebut. Dari satu rumah petak yg dia tempati sekeluarga, dia mengawali praktiknya. Lambat laun, krn ketulusan baktinya, byk yg berdatangan utk berobat. Tak lama, rumahnya pun berubah menjadi semi istana. Suatu sore, Budhe berkunjung mengantarkan makanan. Melihat banyak pasien mengantri, Budhe berbasa basi ” Wah, banyak ya pasiennya Jeung?”, dengan malu2, bu Bidan yang baik hati itu menjawab dengan senyum tulus sumringah ” Iya, ini, akhir2 ini tambah rame, alhamdulillah, hehehe”

Budhe tertegun, dlm hati beliau berharap, semoga para pasien tidak mendengar, terlebih tidak menganggap jawaban itu sbg anomali terhadap kondisi mereka yang sedang kesakitan. Tapi terlambat. Beberapa pasien terlihat bereaksi dg kepala yg mendongak dan posisi duduk yg spt tidak enak. Segera, Budhe pun undur diri…

Bagi saya. Kejujuran bu Bidan adalah sebagian nature kesadarannya terhadap bakti profesi. Apapun motifnya, spontanitas yg dia tunjukkan adalah sebuah apresiasi terhadap posisi pasien sebagai partner dan market ladang penghasilan dunia dan akhiratnya..

Wallahua’lam

words by Kurnia Ati’ullah

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s