Kisah Nama Dua Bokong di Sidoarjo

COBA tebak, bokong paling gede di dunia ada di mana?

Ah, jangan tebak bokong punya Kim Kardashian. Jangan pula tuding bokong Julia Perez yang seksi itu, misalnya. Bokong mereka masih kalah gede -sangat jauh- dari dua bokong di Sidoarjo ini. Yakni, Bokong Duwur dan Bokongisor.

bokongsidoarjoIni tidak mengada-ada. Bokong Duwur dan Bokongisor adalah dua di antara empat dusun di Desa Klandingsari. Desa tersebut berada di Tarik, satu di antara 18 kecamatan di kota berlambang udang dan ikan bandeng itu.

”Bokong” paling gede sejagat tersebut sejatinya tidak terlalu luas. Hanya ada sembilan RT di kawasan itu. Bokong Duwur punya enam RT. Sisanya berada di Bokongisor.

Kepala Desa Klandingsari Wawan Setya Budi Utomo menambahkan, Bokong Duwur dan Bokongisor merupakan dua di antara empat dusun di Desa Klandingsari. Dusun yang lain adalah Wonosari dan Klanding. ”Dulu juga ada Bokong Tengah,” katanya. Tapi, pantat, eh, Bokong Tengah itu tinggal kenangan. Bokong Tengah dilebur dengan dusun-dusun lainnya. Penduduknya terlalu sedikit. Jalannya administrasi pemerintahan pun kurang efektif dan efisien. Ya, siapa sih yang mau tinggal nylempit di tengah-tengah bokong? Hehehe

Bokung Duwur dan Bokongisor memang cukup terpencil. Yang tak terbiasa ke sana tentu tak mudah langsung menemukan dua dusun itu. Selain jauh dari jalan utama, papan nama atau petunjuk arah nihil.

”Dulu pernah ada, tapi sudah hilang karena tidak dirawat,” kata Wawan. Selain itu, warga tidak mau lagi bikin papan penanda nama Bokong Duwur dan Bokongisor. ”Paling warganya juga malu. Nama dusun kok Bokong,” timpalnya lantas tersenyum mengembang. Sebab, siapa yang tak tahu bahwa bokong berarti pantat? Sebuah kata yang tak lazim untuk dijadikan nama desa atau dusun.

Wawan memang merasakan betul hal tersebut. Dia asli Bokongisor. ”Zaman sekolah dulu sering diejek,” tuturnya.

Misalnya, pada 1991, saat Wawan masih SMA. Ketika itu, rumah dan sekolahnya berjarak 8 kilometer. Setiap hari dia naik angkutan umum. Dalam setiap perjalanan itu, Wawan kerap dipoyoki kawan-kawannya. ”Yek, anak Bokong,” ledek teman-teman Wawan kala itu.

Tidak tahan dengan ejekan tersebut, Wawan cari siasat. ”Saya turun di Dusun Wonosari. Jalan agak jauh tidak apa-apa asal tidak diejek,” ungkapnya.

Bagi orang yang tidak terbiasa, Bokong yang dipakai sebagai nama dusun tentu sangat janggal. Tapi, warga sekitar tentu sudah sangat biasa. Padahal, umur nama Bokong itu belum terlampau tua.

Ya, dusun-dusun tersebut baru ditahbiskan sebagai Bokong Duwur dan Bokongisor pada 1986, 28 tahun silam. Dusun yang terletak di kawasan barat Sidoarjo, mepet dengan Kabupaten Mojokerto, tersebut memang dekat dengan Sungai Brantas. Itulah alasan utama penamaan Bokong tersebut.

Ketika itu, kata Wawan, sangat banyak mayat yang ditemukan di Sungai Brantas. Hampir semua mayat ditemukan dalam kondisi tertelungkup. ”Yang kelihatan ngambang itu bokongnya,” ceritanya. Entah dari mana asal jenazah-jenazah tersebut. Entah korban tenggelam atau korban penembakan misterius yang ketika itu memang sedang marak-maraknya.

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, jatim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s