Harga Tembakau Merosot, Petani Merugi

BOYOLALI – Harga tembakau rajangan turun dari kisaran Rp 75 ribu-Rp 80 ribu per kilogram menjadi Rp 35 ribu-Rp 60 ribu per kilogram. Penurunan harga ini bervariasi tergantung kualitas tembakau. Lantaran harga turun, pa ra petani mengeluh.

Widodo, 55, salah satu petani tembakau mengatakan, mendapatkan tembakau kering satu kilogran membutuhkan tembakau basah hingga 10 kilogram. Dengan harga tembakau sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 60 ribu, petani mendapatkan untung cukup mepet. Padahal tahun lalu, tembakau rajangan kering harganya mencapai Rp 80 ribu per kilogram. “Kalau mau untung, harganya yang kayak tahun lalu,” kata warga Desa Sumbung, Kecamatan Cepogo, ini ketika ditemui Radar Solo kemarin (4/11).

Harga jual disesuaikan dengan modal yang dikeluarkan pa ra petani. Pasalnya, sesuai perhitungan, modal yang di keluarkan mencapai Rp 8.000 per kilogram. Widodo sendiri menanam tembakau hingga satu hektare.

Hasil panen dikeringkan sendiri dengan mengajak tetangga sekitar untuk merajang dan mengeringkannya. Setelah diolah dan dikeringkan, tembakau hasil panen mencapai bobot dua ton. Padahal biaya tanam setiap hektare mencapai Rp 60 juta. Dengan dana sebanyak itu, jelas para petani merugi. “Kami merugi, ini saja lahan milik sendiri. Kalau sewa jelas kerugian bertambah besar,” keluhnya.

Meski harganya anjlok, namun petani tetap menjualnya. Sebab jika disimpan terlalu lama, tembakau akan rusak dan berdampak pada kualitas makin menurun. Lebih parahnya lagi, kualitas tembakau hasil panen tahun ini lebih rendah dibanding panen tahun lalu. “Sebabnya curah hujan tinggi saat panen,” beber dia.

Sarwata, 40, petani tembakau Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, mengungkapkan, petani tembakau semakin terpuruk. Selain harga yang turun akibat merosotnya kua litas tembakau, pembelian dari pabrik rokok juga masih terbatas. “Sama karena curah hujan yang tinggi,” tutur dia.

Sarwata menanam tembakau 3.000 batang di lahan miliknya. Namun, saat panen, tembakau hanya dibeli dengan harga total Rp 3 juta. Ia menambahkan, tahun lalu tembakau rajangan itu bisa laku hingga Rp 6,5 juta untuk jumlah batang yang sama. (yan/un)

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s