Tag Archives: sejarah

Babat Jerawat, Nama yang Berasal dari Pemberantasan Bandit

babatjerawatWARGA Babat jerawat, Kusaini, berkisah. Setiap mengurus KTP atau dokumen lain, dia kerap diberi pertanyaan serupa. ”Kok namanya Babat jerawat?” ucapnya.

Ya, barangkali banyak yang penasaran dengan nama Babat jerawat itu. Sungguhkah warga di sana kerap membabat jerawat agar wajah tetap mulus. Kusaini yang penasaran mengatakan pernah menelusuri asal-usul nama kampungnya itu.

”Dari beberapa warga, saya dikandhani kalau nama Babat jerawat itu dari kata babad jejerawat-awat,” katanya. Babad artinya memberantas, sedangkan jejerawat-awat bisa diterjemahkan sebagai berbaris sambil mengancam. Konon, daerah Alas Malang dulu adalah markas bandit. Suatu hari, mereka melewati daerah Babat jerawat. Warga mengetahui ada penjahat yang akan mengancam desa mereka. Warga bersatu padu, mereka membuat pagar betis di pinggir desa. Ketika para bandit datang, warga mengusir mereka dengan ancaman atau disebut juga dengan awat-awat. Seperti itulah cerita mengenai nama Desa Babat jerawat.

Abdul Mudjid, warga Babat jerawat, mendapatkan cerita tersebut dari kakeknya. Kakeknya sering bercerita ketika dia membantu di ladang kacang. Saat sedang mencuci kacang, kakeknya sering mendongenginya. Salah satunya adalah kisah Desa Babat jerawat tersebut. Dia mengatakan, tidak banyak orang yang mengerti cerita itu.

Namun, apabila ditelusuri secara historis, nama Babat jerawat sebenarnya berasal dari nama dua desa. ”Awalnya dari Desa Babad dan Desa Dukuh Jerawat,” kata seorang sesepuh Desa Dukuh Jerawat, Nur Kholis. Dulu dua desa itu terpisah. Sampai pada suatu hari, ketika pemilihan kepala Desa Babad yang baru, pemenangnya berasal dari Dukuh Jerawat. Untuk menghindari perpecahan, dua desa itu pun disatukan pada 1956. (laz/c7/dos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, jatim

Kisah Nama Dua Bokong di Sidoarjo

COBA tebak, bokong paling gede di dunia ada di mana?

Ah, jangan tebak bokong punya Kim Kardashian. Jangan pula tuding bokong Julia Perez yang seksi itu, misalnya. Bokong mereka masih kalah gede -sangat jauh- dari dua bokong di Sidoarjo ini. Yakni, Bokong Duwur dan Bokongisor.

bokongsidoarjoIni tidak mengada-ada. Bokong Duwur dan Bokongisor adalah dua di antara empat dusun di Desa Klandingsari. Desa tersebut berada di Tarik, satu di antara 18 kecamatan di kota berlambang udang dan ikan bandeng itu.

”Bokong” paling gede sejagat tersebut sejatinya tidak terlalu luas. Hanya ada sembilan RT di kawasan itu. Bokong Duwur punya enam RT. Sisanya berada di Bokongisor.

Kepala Desa Klandingsari Wawan Setya Budi Utomo menambahkan, Bokong Duwur dan Bokongisor merupakan dua di antara empat dusun di Desa Klandingsari. Dusun yang lain adalah Wonosari dan Klanding. ”Dulu juga ada Bokong Tengah,” katanya. Tapi, pantat, eh, Bokong Tengah itu tinggal kenangan. Bokong Tengah dilebur dengan dusun-dusun lainnya. Penduduknya terlalu sedikit. Jalannya administrasi pemerintahan pun kurang efektif dan efisien. Ya, siapa sih yang mau tinggal nylempit di tengah-tengah bokong? Hehehe

Bokung Duwur dan Bokongisor memang cukup terpencil. Yang tak terbiasa ke sana tentu tak mudah langsung menemukan dua dusun itu. Selain jauh dari jalan utama, papan nama atau petunjuk arah nihil.

”Dulu pernah ada, tapi sudah hilang karena tidak dirawat,” kata Wawan. Selain itu, warga tidak mau lagi bikin papan penanda nama Bokong Duwur dan Bokongisor. ”Paling warganya juga malu. Nama dusun kok Bokong,” timpalnya lantas tersenyum mengembang. Sebab, siapa yang tak tahu bahwa bokong berarti pantat? Sebuah kata yang tak lazim untuk dijadikan nama desa atau dusun.

Wawan memang merasakan betul hal tersebut. Dia asli Bokongisor. ”Zaman sekolah dulu sering diejek,” tuturnya.

Misalnya, pada 1991, saat Wawan masih SMA. Ketika itu, rumah dan sekolahnya berjarak 8 kilometer. Setiap hari dia naik angkutan umum. Dalam setiap perjalanan itu, Wawan kerap dipoyoki kawan-kawannya. ”Yek, anak Bokong,” ledek teman-teman Wawan kala itu.

Tidak tahan dengan ejekan tersebut, Wawan cari siasat. ”Saya turun di Dusun Wonosari. Jalan agak jauh tidak apa-apa asal tidak diejek,” ungkapnya.

Bagi orang yang tidak terbiasa, Bokong yang dipakai sebagai nama dusun tentu sangat janggal. Tapi, warga sekitar tentu sudah sangat biasa. Padahal, umur nama Bokong itu belum terlampau tua.

Ya, dusun-dusun tersebut baru ditahbiskan sebagai Bokong Duwur dan Bokongisor pada 1986, 28 tahun silam. Dusun yang terletak di kawasan barat Sidoarjo, mepet dengan Kabupaten Mojokerto, tersebut memang dekat dengan Sungai Brantas. Itulah alasan utama penamaan Bokong tersebut.

Ketika itu, kata Wawan, sangat banyak mayat yang ditemukan di Sungai Brantas. Hampir semua mayat ditemukan dalam kondisi tertelungkup. ”Yang kelihatan ngambang itu bokongnya,” ceritanya. Entah dari mana asal jenazah-jenazah tersebut. Entah korban tenggelam atau korban penembakan misterius yang ketika itu memang sedang marak-maraknya.

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, jatim

Wali Duduk yang Jadi Asal Mula Nama Duduksampeyan

KECAMATAN Duduksampeyan berada di jalur pantai utara, perbatasan Kabupaten Gresik dan Lamongan. Nama wilayah itu memang punya arti lain. Secara sederhana, dalam bahasa Jawa Timuran, duduk sampeyan bisa berarti ”bukan Anda”. Tapi, cerita-cerita yang berkembang dari mulut ke mulut tidak klik dengan arti tersebut.

Ya, nama daerah itu memang tidak punya kajian akademis. Semuanya bersumber dari tuturan yang sudah turun-temurun.

Adalah Kuat, 94, tokoh sepuh di Duduksampeyan, yang menuturkan kisah tersebut. Veteran perang Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dengan pangkat terakhir sersan mayor itu bercerita tentang seorang pertapa misterius. Pada suatu saat, pertapa renta dengan jenggot panjang itu berdiri di kampung yang kini menjadi wilayah Duduksampeyan. Orang tersebut bercerita bahwa dirinya baru saja metu dari Tatu. Kini tatu yang juga bisa berarti luka itu menjadi Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Gresik.

Pria yang diyakini sebagai seorang ulama tersebut berjalan melintasi Jatirembe, lalu Sumengko, dan berakhir pada sebuah kampung sunyi. Rumah penduduk hanya sekitar 50 buah. ”Belum ada pasar dan rel kereta api,” cerita suami Rukiyani, 83, itu.

Melihat seorang tua yang kondisinya memprihatinkan, seorang warga meminta orang tersebut untuk beristirahat. ”Sampeyan lenggah mriki (Anda duduk di sini, Red),” kata Kuat, menceritakan kisah yang diingatnya sejak belia itu. Penduduk tersebut lantas memberikan minuman kepada orang tua itu. Setelah minum, orang tersebut meneruskan perjalanan. Nah, sebelum kembali mengembara, tempat peristirahatan sementara itu dinamainya Duduksampeyan.

Entah, apa sebenarnya maksud nama itu. Apakah kata ”duduk” tersebut mengacu pada kata lenggah? Rasanya memang agak tidak klop. Sebab, ratusan tahun lalu pemakaian bahasa Melayu belum banyak dikenal orang. Selain itu, lucu rasanya kalau duduk sampeyan benar-benar bermakna ”bukan Anda”. Entah kalau ketika wali tersebut ditawari duduk, lalu ada orang lain yang ikut-ikutan duduk, dan penduduk lain langsung nyeletuk, ”Huss, duduk Sampeyan!”

Kisah-kisah tersebut memang tidak punya landasan ilmiah. ”Cerita itu saya dengar, katanya dari kejadian ratusan tahun sebelumnya. Dalam setiap pengajian, Pak Kiai selalu membacakan surah Al Anbiah sambil bercerita tentang wali tersebut,” kata lelaki dengan 12 anak dan 16 cucu tersebut.

Cerita folklore itu memang masih lestari di Duduksampeyan. Terlebih karena di wilayah itu ada empat sesepuh. Usia mereka rata-rata di atas 90 tahun. ”Salah satunya ya, Pak Kuat,” kata Camat Duduksampeyan Hari Syawaluddin. Dengan usia hampir seabad, daya ingat Kuat masih kuat. Tak heran, lanjut mantan camat Manyar itu, Kuat selalu dipanggil pada malam renungan peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus, di kampung-kampung. Kuat diundang untuk bercerita tentang asal-usul nama Duduksampeyan.

Hari berharap suatu saat ada kajian akademis. Bukan itu saja, sosok wali atau orang sepuh yang menjadi asal-usul nama itu juga kudu dikejar. Sebab, orang tua itu terbukti punya pengaruh pada sejarah kawasan tersebut. Sebut saja Desa Metatu dan Jatirembe di Kecamatan Benjeng. Juga, Sumengko dan Duduksampeyan di Kecamatan Duduksampeyan.

Jadi, siapa yang mau meneliti? Apakah Sampeyan? Atau, duduk Sampeyan? (yad/c7/dos/jawapos11082014)

Tinggalkan komentar

Filed under jatim

Djuwari, Pemanggul Tandu Jenderal Sudirman

Djuwari

Djuwari

Kemarin pagi, beberapa jam sebelum detik-detik proklamasi, ponsel saya berbunyi. Isinya sangat panjang untuk ukuran sms. Tapi langsung menyentak dada. Spontan saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

‘’Djuwari 82 thn tukang panggul P5 BESAR SUDIRMAN, rela terlupakan pada HUT KEMERDEKAAN RI k3 64 thn ini. Pria renta yang tinggal di dusun GOLIMAN, ds Parang.Kec Banyakan, Kediri, hidup miskin sbg petani di kaki GN WILIS……’’

Itu hanya sepenggal dari ‘cerpen’ yang terkirim lewat sms. Tapi isi lengkapnya, bertutur sangat rinci soal bagaimana seseorang memaknai arti sebuah peringatan Hari Kemerdekaan. Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Indonesia

Menengok Eksotika Hotel Tugu yang Menawarkan Nilai Sejarah

admonike.multiply.com)

Oei Hui Lan merupakan putri kesayangan Oei Tiong Ham (foto:admonike.multiply.com)

Sudah menjadi kelaziman jika hotel menjual kemewahan. Namun, jika ada hotel dengan menghadirkan saksi bisu sejarah, maka menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu. Hotel Tugu menyajikan hal itu melalui perabotan, lukisan, dan benda-benda bersejarah lain.

Lokasinya berada di jantung Kota Malang, Jl Tugu. Pesona yang dipancarkan bertolak belakang dengan modernisasi. Anhar Setjadibrata, sang pengelola, justru ingin mengajak setiap pengunjung mengenang kejayaan masa lampau. Perpaduan nuansa Jawa tradisional, kolonial Belanda, dan China menjadi sentuhan di Hotel Tugu. Tiga budaya ini diyakini tak akan memudar untuk dinikmati sepanjang zaman. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Malang, Pariwisata

Menelusuri Sejarah Lambang Kota Batu

Nama pencipta logo Kota Batu kemungkinan besar tidak akan masuk dalam catatan sejarah perjalanan awal Kota Batu. Pencipta logo tersebut, Yudi Armadioka tidak ada dalam berkas di Pemkot Batu karena berkasnya sudah hilang. Hilangnya berkas pencipta logo Kota Batu terungkap dalam sarasehan HUT ke-7 Kota Batu yang digelar masyarakat Kota Batu di Hotel Purnama beberapa waktu lalu.

Asisten I Sekda Kota Batu, Pudjo Yuwono menegaskan, berkas lomba penciptaan logo Kota Batu tidak ada di Pemkot Batu, termasuk nama pemenang yang hingga saat ini digunakan Pemkot Batu. Ironis memang, berkas bagian dari sejarah perjalanan Kota Batu harus hilang. Padahal, usia Kota Batu hari ini baru genap 7 tahun. Semua saksi sejarah peningkatan status Kota Batu masih ada dan pencipta logo Kota Batu pun masih hidup. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Batu, Berita, Malang Raya

Museum Brawijaya, Tempat Nostalgia dan Belajar

Museum Brawijaya ini tidak hanya menjadi tempat wisata sejarah, tapi juga tempat studi bagi wisatawan asing dan domestik

Museum Brawijaya ini tidak hanya menjadi tempat wisata sejarah, tapi juga tempat studi bagi wisatawan asing dan domestik

Minat berwisata sejarah ke Museum Brawijaya di Jalan Ijen ternyata masih sangat tinggi. Selain dikunjungi wisatawan domestic, museum yang telah berusia 40 tahun ini juga masih memikat wisatawan asing. Di museum ini, selain berwisata sejarah dan nostalgia, juga jadi tempat riset ilmu pengetahuan.

Kepala Museum Brawijaya, Mayor (CAJ) Lukas Wahyu Dewanto mengungkapkan, waktu puncak kunjungan terjadi pada bulan Mei, Juni dan Juli. Dalam periode waktu ini, terdapat sekitar 7000 pengunjung setiap bulannya. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Malang Raya, Pariwisata, Pendidikan